Slide Show

Juni 26, 2011

The Magic Thief (Magic Thief 1)


Ini kisah tentang seorang pencuri kecil bernama Connwaer, suatu hari ia berniat mencuri isi saku seorang laki-laki yang berjalan di kegelapan malam. Tetapi bukan permata atau uang emas, ia malah menemukan sebuah batu. Herannya, laki-laki yang dicuri itu tidak marah, tapi malah mengajaknya makan.

Setelah mengobrol, Conn baru tahu, bahwa batu yang ia curi adalah batu sihir dari laki-laki itu yang ternyata seorang penyihir yang dipanggil kembali setelah dibuang dari Kota Wellmet. Siapapun yang memegang batu sihir selain pemiliknya, seharusnya mati, tapi tidak demikian dengan Conn. Ia mampu memegang banyak batu sihir yang bukan miliknya dan istimewanya, ia tidak mati. Lelaki penyihir yang dicurinya itu bernama Nevery, Conn diangkat menjadi murid sihirnya, dengan satu syarat dari para Tetua Academicos. Ia harus menemukan batu sihirnya sendiri, segera dalam batas waktu yang ditentukan. Sialnya, Batu sihirnya merupakan milik Duchess dan ada di kediaman kerajaan. Akankah Conn mengambilnya tepat waktu? atau dia akan menemukan batu sihir lainnya?

Keistimewaan buku ini adalah, selain hurufnya gede-gede dan nggak terlalu rapat, ada ilustrasinya juga. Dan ada teka teki bahasa sandi di tiap babnya. :D

The Journeys


Nggak nyangka, ternyata kebanyakan isinya penuh dengan humor. Mulai dari masalah keyakinan yang dihubungin ama minyak wangi Arab, Kisah putus cinta yang dihabiskan di sekitar kolam hiu di Karimunjawa, Perjalanan sama Mertua ke negeri Paman Sam dan berbagai kisah perjalanan lain yang inspiratif dan amazing.

Tempat yang dikunjungin juga beragam, ada NTT dan Karimunjawa, di Indonesia!! Juga ada Afrika yang berwarna, Taiwan dengan desa airnya, Swiss, Spanyol.. banyak sekali kota dan tempat serta pengalaman. Selain harus dibaca bagi yang mau travelling, buku kayak gini juga pas buat orang-orang kaya saya, yang baru punya niat travelling lagi kayak masih single dulu.

Ini cuma masalah waktu, uang dan... ups.. ijin suami :D
Nggak perlu jauh jauh deh, ke luar zona nyaman aja, juga udah travelling. :D
Juni 01, 2011

Wuthering Heights


Aku tak bisa mengungkapkannya, tapi pasti kau dan semua orang punya perasaan bahwa ada, atau seharusnya ada, keberadaan di luar tubuhmu sendiri. Apa gunanya penciptaanku, kalau seluruh diriku terkurung di sini? Segala kesengsaraan besarku di dunia ini selama ini adalah kesengsaraan Heatchcliff, dan aku melihat dan merasakan setiap kesengsaraan itu sejak awal; pemikiran besarku dalam hidup adalah dirinya. Kalau segala hal lain musnah, dan dia tetap ada, aku akan tetap ada; dan kalau segala hal lain tetap ada dan dia dibinasakan, semesta ini akan menjadi asing bagiku; aku takkan merasa menjadi bagian darinya.

Cintaku kepada Linton seperti dedaunan di hutan: waktu akan mengubahnya, aku sadar sekali itu, sebagaimana musim dingin mengubah pepohonan. Cintaku kepada Heatchliff menyerupai karang-karang abadi di bawah, sumber dari sedikit saja kesenangan yang terlihat, tapi perlu.

Nelly, akulah Heatchliff. Dia selalu, selalu ada dalam pikiranku bukan sebagai kesenangan, seperti aku selalu tidak menyenangkanbagi diriku sendiri. Tetapi sebagai keberadaanku sendiri.


Akhirnya selese juga...
Pertama mbaca buku ini, sempat desperate, karena isinya cuma dendam, benci, keegoisan, yang pada dasarnya juga merupakan masalah harga diri dan cinta.

Cerita ini muncul di dua buku yang pernah saya baca, di eclipse dan di Topeng Kaca.
Ceritanya bermula dari Mr. Earnshaw yang membawa pulang bocah laki-laki asing, Heatchliff, ke rumahnya. Semenjak itu, dimulailah perseteruan yang terjadi di Wuthering Heights. Puterinya, Catherine mencintai Heatchliff tetapi sepertinya masing-masing dari mereka entah karena keegoisan atau malah karena terlalu cintanya malah menikah dengan orang lain.
Tersebutlah keluarga lain di Thrushcross Grange, keluarga Mr. Linton menjadi pasangan dari kemuraman yang terjadi di Wuthering Heights. Disitulah cerita ini berpusat, dari rumah satu ke rumah yang satunya lagi.

Anehnya, meski cerita ini benar-benar dipenuhi derita dan kemuraman, plus bahasanya khas novel klasik, tapi mampu membuat penasaran pembaca untuk mengetahui akhir kisahnya. Terutama karena meski umurnya sudah lebih dari 160 tahun tapi sepertinya novel ini masih punya ruang khusus di antara pembaca buku baik klasik maupun nonklasik.

Tadinya saya pikir endingnya juga bakal mengecewakan, tapi ternyata nggak. Ini kisah tragedi cinta yang nggak lazim yang pernah saya baca.

Satu bintang untuk Cathy Linton
Satu bintang untuk Heatchliff
Satu bintang untuk Penistone Crags
Dan satu bintang untuk Emily Bronte yang punya keunikan menyampaikan "cinta" dalam bahasanya sendiri