Slide Show

Januari 31, 2012

Pak Harto : The Untold Stories


Judul Buku : Pak Harto : The Untold Stories
Penulis : Anita Dewi A., Bakarudin, Donna Sita I., Dwitri Waluyo, Mahpudi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 604 halaman, Softcover
Cetakan Pertama : 2011
ISBN : 978-979-22-7131-7


Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.”

Pak Harto adalah Seorang Pahlawan. Itulah yang saya simpulkan dari keseluruhan membaca buku ini. Pak Harto sebagai seorang individu yang pernah memimpin Bangsa Indonesia dari keterpurukan setelah peristiwa G30S/PKI pernah membawa Indonesia menjadi salah satu Negara yang pembangunan dan kekuatan pangannya diakui oleh Dunia Internasional.

The Untold Stories ini menceritakan Pak Harto dari 113 orang yang pernah berinteraksi dengan beliau. Baik itu Perdana menteri dari Negara tetangga, para ajudan, saudara kandung Pak Harto, dokter pribadinya, pekerja seni sampai seorang pengamen juga bercerita di buku ini. Tun Mahathir bin Mohamad, Fidel Ramos, Des Alwi, Basofi Sudirman, Camelia Malik, Dorce Gamalama, Meutia Hatta dan Quraish Shihab adalah contoh para pencerita di buku ini.

Buku ini menceritakan banyak hal tentang pribadi dan sifat Pak Harto yang saya simpulkan adalah seorang pribadi yang tidak banyak bicara, sayang terhadap keluarga, murah senyum dan memiliki pandangan ke depan dalam membuat suatu kebijakan. Berbagai contoh kegiatan masyarakat juga dibangunnya dengan tujuan agar masyarakat Indonesia benar-benar berkembang dan menuju arah yang lebih baik. Sebut saja seperti PKK, Keluarga Berencana, SD Inpres, pembangunan jalan dan listrik yang mulai masuk desa adalah beberapa kegiatan yang sampai sekarang masih bermanfaat bagi Bangsa.

Ketika krisis ekonomi tahun 1998, kepemimpinan Pak Harto sebagai Presiden harus disudahi karena banyak pihak yang memintanya. Fadli Zon dalam buku ini menceritakan bagaimana Direktur IMF belakangan memberikan pidato resmi yang mengatakan bahwa IMF lah yang membuat kondisi agar Suharto meletakkan jabatannya. Selain itu adanya asumsi negatif masyarakat terhadap pemerintahan Pak Harto juga karena para pejabat disekitar beliau yang memiliki prinsip Asal Bapak Senang, sehingga Pak Harto terhalangi untuk melihat realitas yang terjadi. (Yuddy Chrisnandi, hal.260)

Buku ini juga tidak hanya berserita tentang Pak Harto dari orang-orang yang pro dengannya. A.M. Fatwa adalah salah satu penyumbang cerita di buku ini. Ia yang pernah melawan rezim Orde Lama dan Orde Baru bahkan sampai dipenjara menyimpulkan bahwa “sesungguhnya kebijakan politik itu merupakan tanggung jawab bersama sebagai sebuah rezim”. (Hal. 273)
Pak Harto juga sangat mencintai Ibu Tien, seperti yang diceritakan Satyanegara (Hal. 564) bahwa ketika Ibu Tien meninggal, ia melihat Pak Harto meneteskan air mata saat bertanya mengapa istrinya tidak bisa ditolong.

Cerita dalam buku ini lebih mengingatkan pembaca bahwa Pak Harto benar telah berjasa bagi Bangsa Indonesia. Sepeti yang dikatakan Lee Kuan Yew (Hal.35) “Pada akhirnya, sejarah akan menilai Soeharto secara adil. Beliau harus diberi tempat yang terhormat dalam sejarah Indonesia.”

Life on The Refrigerator Door


Judul Buku : Life on The Refrigerator Door

Penulis : Alice Kuipers

Penerbit : Harper Collins E-Books

Tebal : 233 halaman

ISBN : 978-0-06-147551-1


Apa yang Anda tempelkan di kulkas? Daftar belanja, Memo, Jadwal kuliah, Agenda kerja, nomor telepon penting? Saya yakin ada banyak hal yang bisa kita tempelkan di pintu kulkas.

Seperti pada cerita kali ini, Seorang Ibu dan anak perempuannya punya hobi berkomunikasi lewat catatan yang ditempel di pintu kulkas mereka. Claire, nama anak perempuan itu memiliki seorang Ibu yang super sibuk. Ibunya adalah seorang dokter yang membantu proses kelahiran bayi. Claire, seorang gadis berusia 15 tahun yang juga sangat sibuk dengan dunianya. Mereka jarang mengobrol, biasanya hanya melalui pesan-pesan singkat yang mereka tempelkan di pintu kulkas. Kenapa mereka nggak saling mengirim pesan saja lewat ponsel? Ya, faktanya, Si Ibu ini nggak punya telepon dan tidak mau punya telepon meski Claire sebenarnya punya.

Si Ibu ini kelewat sibuknya, sampai-sampai urusan berbelanja, mencuci piring dan memelihara Peter, kelinci mereka, dilakukan oleh Claire. Ibu Claire sudah bercerai dengan ayahnya, mungkin itu yang menyebabkan ia harus bekerja keras mencari nafkah menghidupi ia dan Claire.


Suatu hari Si Ibu menemukan benjolan di payudara kanannya, khawatir akan kanker maka Si Ibu mulai rutin berkonsultasi kepada dokter. Akhirnya diputuskan bahwa ia harus mengalami lumpektomi (pengangkatan hanya pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara). Saat menjelang dan setelah operasi itulah berbagai kejadian emosional menerpa mereka berdua.

Claire yang mulai bermasalah dengan pacarnya serta tekanan fisik dan emosional yang diterima Si Ibu ketika ia harus menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang penderita kanker payudara. Berbagai kesalahpahaman dan ketidakenakan yang kesemuanya dituliskan di buku ini dalam bentuk catatan-catatan kecil membuat pembaca betah membacanya. Sayangnya karena keterbatasan catatan itulah konflik yang ditimbulkan dan penyelesaian yang diberikan penulis kurang mengena. Peralihan kondisi keluarga yang coba dihadirkan penulis jadi terkesan terlalu tiba-tiba.


Tapi selebihnya saya menikmati ceritanya, apalagi dikisahkan dari dua sudut pandang (ibu dan anak) yang mempengaruhi bagaimana perbedaan cara mereka melihat suatu kejadian yang sama. Buku ini juga menunjukkan bagaimana komunikasi bisa dilakukan tanpa harus berhadap-hadapan langsung dengan orang lain. Terkadang mengungkapkan sesuatu lewat tulisan lebih mudah daripada berbicara langsung lewat kata. Ceritanya juga menyindir saya sebagai pembaca untuk tetap memperhatikan orang-orang disekitar kita, terlebih orang yang kita cintai karena kita tak tahu kapan waktu untuk bersamanya kemudian kelak sirna.


3 bintang untuk ending yang mengejutkan!


Selene Putri Sang Cleopatra


Judul Buku : Selene Putri Sang Cleopatra
Penulis : Michelle Moran
Penerjemah : Sujatrini Liza
Penerbit : Esensi
Tebal : 500 halaman, paperback
ISBN : 978-979-075-526-0

Cleopatra VII adalah Ratu Mesir yang kisah cintanya mendunia. Setelah pernikahannya dengan Julius Caesar yang berakhir saat Caesar mati dibunuh, selang beberapa tahun kemudian, Cleopatra VII menikah dengan Markus Antonius. Dari pernikahan mereka, lahirlah tiga orang anak dengan dua diantaranya kembar, yaitu Cleopatra Selene dan Alexander Helios (pada tahun 40 SM) serta Si Bungsu Ptolemeus (pada 36 SM).

Pada tahun 30 SM, Pasukan Oktavianus, penguasa Roma, berhasil menaklukan Mesir yang saat itu dibawah pemerintahan Cleopatra VII dan Markus Antonius. Ketika Mesir berduka atas kematian Cleopatra dan Antonius, untuk menunjukkan kekuasaan dan pengampunannya Oktavianus memutuskan membawa ketiga keturunan terakhir Ptolemy ke Roma. Di perjalanan tersebut Si Bungsu, Ptolemeus meninggal karena sakit dan jenazahnya dibuang ke tengah laut.

Kemudian kisah Si Kembar dimulai di Roma. Mereka tinggal di rumah Oktavia, kakak Oktavianus, yang dulu adalah istri dari Antonius. Di Roma mereka berteman dengan Marcellus, anak Oktavia dari suami pertamanya sebelum Antonius, dan dengan Julia, anak Oktavianus dari istri pertamanya. Kehidupan mereka bisa dibilang sangat makmur, karena dicukupi oleh Oktavia dan mendapat pengawalan ekstra. Semua orang menganggap mereka sebagai tamu dari Mesir, kecuali fakta bahwa mereka sendiri masih menganggap kalau mereka adalah tawanan yang bisa sewaktu-waktu dibuang oleh Oktavianus.

Di Roma, selama mereka memendam keinginan untuk pulang kembali ke Mesir, berbagai peristiwa terjadi di kota itu. Perselisihan diam-diam atas siapa yang kelak akan menggantikan posisi kepemimpinan Kaisar, serta hembusan kencang atas pergolakan budak yang dipelopori seseorang yang dijuluki Elang Merah yang wajahnya masih misterius. Selene dan Alexander harus bertahan di tengah persaingan kekuasaan dalam keluarga Oktavianus sendiri. Dan meski mereka sangat ingin pergi dari Roma, meeka tetap harus bertahan di kota itu sampai mungkin suatu saat nanti Oktavianus akan memperkenankan mereka kembali ke Mesir.

Oktavianus adalah Kaisar yang ditakuti. Selain keras dan kejam terhadap siapa saja yang melawannya, ia juga dikawal Panglima perang yang selalu melindunginya. Di antaranya Agrippa, jenderal kepercayaannya, dan Juba II, yang dulunya merupakan Pangeran Numidia yang membayar kehidupannya dengan kesetiaan terhadap Oktavianus, orang yang menaklukan negaranya.

Kisah percintaan, dendam dan persahabatan terulas dengan rapi di cerita ini. Belum lagi ada banyak fakta yang menambah pengetahuan saya tentang kehidupan masyarakat Romawi dan Mesir saat itu.
Seperti :
- Tradisi Ludi Romani adalah tradisi yg dilaksanakan selama 15 hari. Berisi pacuan kuda, gladiator, pertunjukan teater.. (Hal. 235)
- Hermes adalah pembawa pesan Dewa, dan Sharon adalah pengantar orang mati. Selena, hal. 249
- Oktavianus adalah Pemimpin yang diberi gelar kaisar Augustus
- Apa itu Crenellation, Lupercalia, Lustratio, Triklinium.

Dan masih ada banyak lagi pengetahuan sejarah yang bisa Pembaca temukan di buku ini tanpa harus merasa bosan membacanya. Terlebih adanya Glosarium di bagian belakang buku, yang sangat membantu saya memahami beberapa kata asing dalam cerita. Kita akan disuguhi alur cerita yang cepat, terkadang tragis bahkan ada saat hampir di bagian akhir cerita yang membuat hati saya teriris. Penulis benar-benar mampu membawa pembacanya masuk ke mesin waktu dan menikmati Romawi saat itu. Arsitektur yang menawan serta keindahan suasana yang dilukiskan sedemikian nyata sampai saya merasa dapat merasakan megahnya bangunan-bangunan di sana.

Sayangnya masih ada beberapa typo penulisan di halaman 240 dan 258. Tapi tidak terlalu mengganggu saya yang menikmati kisahnya. Covernya juga kurang menyolok, terkesan biasa saja. Saya lebih suka kesan glamour dan wanita misterius dari sampul hardcover versi aslinya.

Satu kutipan yang saya suka
"begitu kita meninggal, yang kita tinggalkan bukanlah yang terpahat di batu monumen, melainkan yang terajut dalam kehidupan orang lain.", Hal. 474

4 bintang untuk buku ini.

Jabat erat untuk SS (Mas Eko) dan Peri bukunya (Mbak Truly) yang sudah mengirimkan saya buku ini. Tanpa kalian, saya tidak akan bisa menemukan betapa menyenangkannya terbang ke Mesir dan Roma. :)

Sedikit tentang Michelle Moran
Michelle Moran lahir di San Fernando Valley, CA. Dia memiliki ketertarikan dalam menulis sejak usianya masih muda. Ketika ia diterima di Pomona College, ia mengambil banyak kelas di bidang Literatur Inggris. Ia mendapatkan gelar MA dari Claremont Graduate University saat ia bekerja sebagai arkeolog di Israel. Michelle telah berpergian dari Zimbabwe hingga India, dan pengalaman arkeologinya merupakan inspirasinya dalam menulis historical fiction. Novelnya yang merupakan international bestselling historical fiction adalah Nefertiti (diterbitkan tahun 2008), The Heretic Queen (2008) adalah novel keduanya, Cleopatra's Daughter (2009) adalah novel ketiganya dan novel keempatnya yang berjudul Madame Tussaud diterbitkan pada tahun 2011.

Anda dapat berkunjung ke webnya di michellemoran.com
Januari 23, 2012

Clara's Medal


Judul Buku : Clara’s Medal
Penulis : Feby Indirani
Penerbit : Qanita
Cetakan Pertama ; September 2011
Tebal : 484 halaman
ISBN : 978-602-922-504-4

Anda pasti punya cita-cita kan? Saya punya, pingin jadi astronot. Aneh? Banyak yang bilang begitu. Tapi toh saya tak ambil pusing. Itu kan cita-cita saya, jadi yang berjuang untuk meraihnya kan juga saya, bukan mereka.

Di buku ini, diceritakan ada banyak anak-anak muda Indonesia yang punya cita-cita sama. Ingin membawa pulang medali Olimpiade Fisika tingkat Internasional. Iya. FISIKA. Keren kan? Nggak sedikit orang yang menganggap pelajaran ini adalah hantu mengerikan, termasuk saya. Tapi tenang saja, novel ini tidak kebanyakan membahas fisika kok. :)

Clara Wibisono adalah pelajar SMA yang terdaftar ke dalam calon peserta yang akan mewakili Indonesia di Olimpiade tersebut. Baru calon, sebab masih akan diseleksi hingga tersisa 12 orang yang akan berangkat ke Singapura, tempat olimpiade tersebut diadakan. Nah, tempat penggemblengan mereka itu adalah di FUSI (Fisika Untuk Siswa Indonesia). Ada 16 pelajar terpilih dari seluruh wilayah Indonesia yang digembleng di tempat tersebut. Clara adalah satu-satunya calon perempuan yang ada di asrama tersebut. Bisa dibayangin nggak, tinggal bersama 15 anak laki-laki ?

Untungnya, Clara bukanlah satu-satunya perempuan dalam asrama tersebut. Masih ada Bu Mirna dan Bu Atik yang membantu mengawasi siswa yang dalam tahap “penggodogan” itu.

Di asrama ini kisah Clara dan kawan-kawannya diceritakan. Bagaimana perjuangan mereka memperebutkan tempat agar bisa punya kesempatan untuk pergi ke Olimpiade. Penggemblengan habis-habisan, buku dan soal-soal yang terus dikerjakan serta bagaimana cara mereka me-refresh pikiran yang dijejali soal-soal tersebut.

Sayangnya, beberapa minggu sebelum keberangkatan, FUSI digegerkan dengan penangkapan Bagas, salah satu calon peserta yang diunggulkan, oleh Polisi. Ia ditahan di balik bui karena melanggar undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), yang membuat Bagas terancam batal berangkat.

Bukan hanya itu, sponsor FUSI pun mulai pergi satu-satu karena tidak mau ikut tercemar nama baik mereka atas peristiwa Bagas. FUSI di ujung tanduk, belum lagi tuduhan dari banyak pihak yang menyudutkan Prasetyo, salah satu pendiri FUSI. Mampukah FUSI memberangkatkan tim mereka ke Olimpiade?

Cerita yang ringan pandai dikemas Penulis, ia mampu membuatnya menjadi tidak membosankan untuk disimak. Unsur persaingan dan persahabatan juga dapat disatukan dengan apik, bahkan penulis juga menyisipkan cerita cinta khas anak muda. Meski endingnya nggantung XD.

Sedikit hal yang mengganggu saya adalah di beberapa bagian “fakta dan science” yang disisipkan di dalamnya. (pada halaman 252), Setahu saya, sifat konduktor, isolator atau semikonduktor ini bukan ditentukan banyak atau sedikitnya jumlah electron. Tetapi berdasarkan band gap atau di buku ini disebut celah tenaga. Semakin besar band gap-nya, maka ia akan semakin sulit menghantarkan listrik, karena itu disebut isolator. Semakin kecil band gap-nya, bahkan jika saling berimpitan, disebut konduktor.
Lalu di halaman 343, pada percobaan gunung berapi. Penambahan cuka ke larutan di dalam “botol” --> apa ini mungkin maksudnya ke dalam gunung berapi buatan tersebut? Tapi kalau memang benar "botol" tulisannya, botol yang mana ya? Dan reaksi penetralan asam, bukan berarti menjadikannya basa. Tetapi “menetralkan”, artinya TIDAK menjadikannya basa (baris ketujuh). Kecuali kalau mau dijelaskan bahwa yang terbentuk adalah basa konjugat dari asam lemah (CH3COOH). *aduh malah kimia banget* T_T
Sesuai reaksinya CH3COOH + NaHCO3 --> CH3COONa + CO2 + H2O

Sedikit saja koreksi saya, dengan tujuan agar meskipun science lebih diceritakan menarik di buku ini, tapi tidak mengurangi pembelajaran yang sebenarnya.

Ow, satu quote Einstein yang saya suka yang ditulis di halaman awal buku ini :
"Saya sangat yakin bahwa prinsip-prinsip semesta akan sangat indah dan sederhana."

3,5 bintang untuk Clara’s Medal. :)
Januari 19, 2012

Kisah-kisah Tengah Malam


Judul Buku : Kisah-kisah Tengah Malam
Penulis : Edgar Allan Poe
Alih Bahasa : Maggie Tiojakin
Editor : Hetih Rusli
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama : Desember 2010
Tebal : 248 halaman, paperback
ISBN : 978-979-22-6537-8

Anda penyuka cerita misteri? Bukan, maksud saya bukan cerita setan atau dedemit dengan muka menyeramkan dan bisa terbang. Maksud saya lebih ke misteri yang menegangkan, dengan teror dan psikologis pelaku yang membuat bulu kuduk merinding membayangkan. Jika memang Anda penasaran dan suka akan buku yang mencekam, buku ini patut Anda masukkan ke dalam daftar buku yang harus Anda baca.
Kisah-Kisah tengah Malam berisi 13 cerpen karya Penulis kenamaan, Edgar Allan Poe. Mengapa 13? Saya juga tidak tahu karena memang tidak dijelaskan di dalam buku ini. Mungkin karena 13 identik dengan sesuatu yang mistis dan menyeramkan, sehingga membuat kita penasaran. Lalu mengapa judulnya “Kisah-Kisah Tengah Malam” ? Yak, karena cerita di dalam buku ini akan lebih mencekam kalau dibaca tengah malam.

1. Gema Jantung yang Tersiksa, menceritakan tentang seorang psikopat yang terhantui oleh Gema Jantung dari korbannya. Sebuah cerita pembuka yang apik dan menegangkan. The Tell-Tale Heart, judul asli dari cerita ini diterbitkan pertama kali pada Januari 1843 di Majalah The Pioneer.
2. Catatan Dalam Botol, dengan judul asli MS. Found in a Bottle, bercerita tentang seorang pengelana yang melakukan pelayaran dari Batavia pada tahun 18-- . Kapal yang ia tumpangi diserang badai sehingga hanya menyisakan ia dan seorang Pria Tua Asal Swedia. Yang membuat cerita ini lebih seram adalah saat di mana mereka bertemu dengan kapal lain yang dipenuhi dengan awak kapal manusia yang bersikap seperti hantu. Hanya saja saya tidak menemukan kaitan antara judul dengan jalan ceritanya.
3. Hop-Frog, tentang seorang pelawak favorit Raja. Ending yang bisa ditebak tetapi penulis mampu mengemasnya dengan apik. Pesan moral yang saya dapatkan adalah kita tidak boleh meremehkan seseorang hanya dari penampilan luarnya saja.
4. Potret seorang Gadis, dengan judul asli Life in Death, pertama diterbitkan tahun 1842 dalam Graham’s Magazine. Cerita ini mengisahkan tentang seorang suami yang terobsesi melukis. Hingga suatu hari tanpa sadar ia mengambil jiwa Sang Istri dan memindahkannya ke dalam lukisan. Menurut saya kalimat penutup ceritanya kurang pas, terutama penyampaian bahwa kehidupan itu telah pindah dari Istri ke dalam lukisan.
5. Mengarungi Badai Maelstörm, dengan versi asli A Descent into the Maelström bercerita tentang badai yang disebut Maelström. Badai yang ditakuti banyak orang ini terjadi di Norwegia. Detail yang banyak dimasukkan penulis sayangnya membuat saya cukup kelelahan membaca deskripsinya. Rumit.
Harry Clarke's 1919 illustration for "A Descent into the Maelström"
6. Kotak Persegi Panjang, atau The Oblong Box dalam versi aslinya yang diterbitkan pertama kali pada Agustus 1844 di Dollar Newspaper. Sebuah kotak yang besar dan panjang yang menyimpan misteri bagi tokoh utamanya.
7. Obrolan dengan Mummy, bercerita tentang bagaimana akibatnya melakukan eksperimen Frankenstein terhadap sebuah mummy yang berusia ribuan tahun. Cerita dengan judul asli Some Words with a Mummy ini bagi saya adalah satu-satunya cerita yang tidak seram atau menegangkan. Kenapa? Baca sendiri ya, masa saya spoiler? XD
8. Setan Merah, cukup membuat saya merinding saat membacanya di tengah malam. Kematian adalah suatu hal yang pasti dan kita tidak mungkin bersembunyi darinya. Cerita dengan judul asli The Mask of the Red Death ini pertama kali diterbitkan tahun 1842.
9. Kucing Hitam (The Black Cat) berkisah tentang seorang psikopat yang plin-plan sama binatang piaraannya. Pertama sayang, terus benci sampe tega membunuhnya. Penulis mampu membawa ketegangan tetap terasa sampai cerita berakhir. Ini cerita yang saya anggap paling seram.
10. Jurang dan Pendulum (The Pit and the Pendulum) agak “berat” di awal ceritanya. Saya bingung membayangkan bagaimana keadaan tokoh utama sampai ke pertengahan cerita. Ketegangan di tengah sampai akhir cerita bagi saya rusak karena endingnya yang menurut saya nggak nyambung.
11. Pertanda Buruk, sayang sekali saya tidak dapat mencari judul asli cerita ini. Awal ceritanya menegangkan, tapi ternyata…
12. William Wilson tidak terlalu menegangkan bahkan akhir ceritanya sudah bisa ditebak.
13. Misteri Rumah Keluarga Usher (The Fall of the House of Usher) merupakan cerita penutup yang kelam. Agak serem membayangkan bagaimana keadaan rumah keluarga Usher tersebut, apalagi tentang mayat Lady Madeline.
Secara keseluruhan, Poe mampu membawa pembaca ke sisi lain cerita misteri. Dengan unsur gothic yang identik dengan kelam, serta adanya karakter psikopat yang muncul di buku ini membuat ketegangan yang dihadirkan Poe benar-benar memasuki imajinasi pembacanya.
4 bintang untuk buku ini.

Sedikit tentang Edgar Allan Poe

Edgar Poe lahir di Boston, Massachusetts pada 19 Januari 1809. Setelah kepergian Ayahnya dan kematian Ibunya, Poe dibawa ke rumah John Allan untuk dirawat di sana. Karir kepenulisannya dimulai setelah saudara laki-lakinya wafat pada tahun 1831. Sayangnya saat itu karya-karyanya tidak banyak mendapatkan penghargaan. Bahkan The Raven, salah satu puisinya yang legendaris, hanya dibayar 9$ atas publikasinya. Kematian Poe di tahun 1849 merupakan misteri, karena ada banyak spekulasi tentang penyakit yang dideritanya. Mungkin sekarang ini dia tidak tahu bagaimana peranannya telah membawa nafas baru yang unik di dunia literatur.

Empat Elemen


Judul Buku : Empat Elemen
Penulis : The Hermes and Friends
Penyunting : Jia Effendie
Penerbit : The Hermes
Cetakan Pertama : Januari 2011
ISBN : 978-979-18103-6-4
Buku ini adalah wujud dari kepedulian teman-teman yang membantu saudara kita yang terkena musibah dari Merapi. Isinya 29 cerita pendek dan puisi yang melibatkan elemen air, udara, angin, api. Dipercaya bahwa keempat elemen inilah yang merupakan elemen pembentuk alam semesta.
Beberapa mengisahkan cerita cinta sepasang kekasih, ada yang menceritakan tentang solidaritas kemanusiaan, persahabatan, kesenyawaan air, dan yang tentu ada adalah mereka yang bercerita tentang bencana.
Saya paling suka cerita pendek yang disisipi puisi oleh Rendra Jakadilaga dengan judul “Partitur Musim”, ceritanya tentang kisah cinta yang tersalin dalam partitur kisah dua manusia, yang satu menulis novel dan satunya mewujudkan dalam partitur lagu. Saya ambil cuplikan puisinya yang saya suka
kemanakah engkau menuju?
"kemanakah engkau menuju?"
"ke masa depan, selalu ke masa depan"
"Apa yang menunggumu di sana?"
"Kau!"
"Bagaimana aku mengenalimu?"
"Aku yang akan menemukanmu"
(Hal 77)
3 bintang untuk buku ini, dengan dua jempol untuk semua penulisnya yang telah membantu saudara kita yang terkena bencana Merapi silam.
Januari 17, 2012

Dunsa

Judul Buku : Dunsa

Penulis : Vinca Callista

Penyunting : Jia Effendie

Penerbit : Atria

Cetakan Pertama : November 2011

ISBN : 978-979-024-492-4


Dunsa adalah sebuah novel fiksi Fantasi dengan penulis orang Indonesia. Sebenarnya sejak awal, kehebohan novel ini terus muncul di antara review teman-teman. Bahkan bintangnya pun cukup tinggi di Goodreads. Alhasil, saya sebagai konsumen novel fantasi ikut mencoba rasa fantasi dalam buku ini.


Dunsa bercerita tentang seorang gadis bernama Merphilia Dunsa. Seperti yang sudah ditulis di covernya, gadis ini harus membunuh Ibu kandungnya yang bernama Ratu Veruna. Alkisah, ketika Phi, panggilan akrab Merphilia, berulang tahun yang ketujuh belas, ia dan Bibinya didatangi oleh seorang Zauberei. Sebuah berita kemudian diterimanya, Phi harus membunuh Ibu kandungnya yang sangat Jahat. Ratu Merah atau Ratu Veruna, atau Mergogo Dunsa adalah seorang wanita yang pernah mencintai Claresta Ardelazam, maharaja yang memimpin negeri Naraniscala. Kecintaan itu sayangnya tidak berjalan dengan baik, karena perbedaan status mereka membuat Mergogo Dunsa ditolak mentah-mentah oleh Ibu dari Claresta. Akhirnya Mergogo tersingkirkan, Claresta terpaksa menikahi Danella, wanita pilihan Ibunya.


Batas antara cinta dan benci itu sangat tipis, karena kemudian Mergogo memberontak terhadap Istana. Claresta bahkan mati ditangannya saat mencoba membujuk wanita yang dicintainya itu untuk tidak membelot terhadap Istana. Perang kemudian terjadi, sampai Mergogo yang kemudian dikenal sebagai Ratu Merah berhasil dibunuh. Sialnya, Jiwa Ratu Merah berhasil disimpan oleh orang kepercayaannya dan kemudian dibangkitkan lagi.


Perang yang terjadi saat Ratu Merah berkuasa disebut Masa Merah, kali ini Naraniscala tidak ingin peristiwa itu terjadi lagi. Ratu Merah harus dimusnahkan, dan menurut penafsiran Zauberei atas kitab Kahrama, hanya dapat dilakukan oleh Merphilia Dunsa.


Phi yang merasa tidak pernah mengenal ibunya, mengiyakan perintah Ratu Alanisador untuk mencari Ratu Merah dan membunuhnya. Tapi cerita Phi tidak hanya tentang membunuh ibunya. Di buku ini juga diceritakan bagaimana kisah cintanya dengan Pangeran Skandar Ardelazam, kakak tirinya. Serta cinta segitiga yang terjadi antara Phi, Skandar dan Putra Mahkota Naraniscala.


Buat pembaca yang suka akan makhluk magis, di buku ini ada banyak makhluk baru yang bisa anda temui, seperti Wyattenakai, Ororoku, Fata dan lainnya. Anda bisa membayangkannya berbekal glosarium yang ada di bagian akhir buku. Masing-masing makhluk dijelaskan dengan rinci. Di bagian awal buku, kita dapat membaca peta dan silsilah Istana Naraniscala. Sayangnya, huruf yang dipakai agak “keriting” dan ukuran yang mungil membuat saya agak susah membacanya.


Kelemahan buku ini juga terlalu banyak judul buku yang disisipkan di dalamnya. Okelah kalau Phi dan Skandar suka membaca, tapi masa iya perlu sedetail itu sampai menulis judul-judul buku yang panjang itu? Kejanggalan lainnya saya rasakan di awal cerita, ketika Bruzila membereskan kamar Phi dan kasurnya yang basah karena hujan menghancurkan langit-langit kamar. Bruzila membereskannya dengan cepat. Padahal kalaupun memanggil tim “bedah rumah”, saya rasa juga tidak akan secepat itu beresnya. Dan anehnya, Phi terima begitu saja, bahkan kecurigaan Phi kalo Bibinya pakai sihir juga terkesan hanya main-main.


Lalu kurangnya peran kerajaan Ciracindiga di dalam cerita, Padahal ketiga negeri lainnya mampu dilibatkan ke dalam jalannya cerita. Kejanggalan lainnya ketika Phi harus masuk ke Lukisan. Awalnya dia tidak mampu menyentuh lukisan tersebut tanpa berhalusinasi bahkan sampai kejang-kejang, tapi kenapa dia bisa masuk tanpa kejang-kejang lagi? Apakah karena pengaruh Wyattenakai, atau karena sudah dijampi jampi dulu begitu? Mungkin penulis bisa lebih mengembangkan bagian ini. Serta saat di mana Phi dirasuki dua jiwa selain jiwanya sendiri. 3 jiwa dalam satu tubuh? Wow, bagi saya terlampau berat untuk dibayangkan.


Tapi selain itu, saya suka adegan perangnya, ketegangan yang ditimbulkan saat membaca dan akhir percintaan Phi yang… emmm.. baca sendiri aja ya… XD


Secara keseluruhan, 3 bintang untuk buku ini. Dua jempol untuk penulisnya, yang mampu membangkitkan kembali fiksi fantasi dalam negeri. :)

Januari 10, 2012

Lullaby


Judul Buku : Lullaby

Penulis : Rina Suryakusuma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama : November 2011

ISBN : 978-979-22-7730-2


Lullaby bercerita tentang seorang wanita muda bernama Audytha Amarillis Capelle (Audy), yang memiliki saudari kembar bernama Rosalind Alexandra Capelle (Rose). Keduanya kembar, namun memiliki karakter yang sama sekali berbeda. Audy adalah seorang wanita yang ceria, memiliki banyak teman dan memiliki pekerjaan tetap di salah satu kantor auditor ternama di Jakarta. Sedangkan Rose dikisahkan bahwa ia kurang percaya diri, sering menutup diri, tidak punya teman dekat dan pekerjaannya hanya melukis di apartemen mereka. Apartemen itu ditinggali empat orang bersaudara, Mas Austin sebagai kakak pertama, Mbak Karin kakak kedua, Audy dan Rose yang kembar.


Ikatan yang menali hubungan antara Audy dengan Rose sangatlah kuat, terlebih sejak lahir Audy menderita penyakit kelainan jantung yang membuat ia terlihat rapuh dan sering dikasihani oleh orang-orang terutama keluarga besarnya. Tetapi dari sudut pandang Audy, Rose juga sama rapuhnya dengan dia. Rose adalah orang yang dianggap Audy paling sering berkorban untuknya. Terlebih sejak kecil mereka sudah sering bersama-sama, setiap Audy masuk rumah sakit, Rose selalu ada di sampingnya, menemani dan ikut menceriakan harinya. Namun seiring berjalannya waktu, Audy tahu bahwa sikap semua orang berbeda dalam memperlakukan ia dan kembarannya tersebut.


Rose sering tidak dianggap dan diabaikan di keluarga tersebut, kehadirannya hanya dianggap sambil lalu. Bahkan sering terjadi ketika ada percakapan antar anggota keluarga, Rose sama sekali tidak pernah terlibat di dalamnya. Rose hanya mau bercerita dengan Audy, dan Audy sangat tertekan karena sikap Rose tersebut. Terlebih ketika Audy didekati seorang cowok bernama Mardinanto Nolan, atasannya di kantor yang sudah 3 tahun berhubungan dengan Audy. Sebenarnya sudah empat kali Mardi melamar Audy, tapi Audy belum pernah menjawab bahwa ia bersedia. Audy takut jika ia menerima lamaran tersebut, maka Rose akan semakin tersisihkan di keluarganya. Rose akan semakin merasa ditinggalkan karena ia tidak memiliki orang lagi yang memerhatikannya. Audy semakin dilema, karena di satu sisi ia begitu mencintai Mardi tapi di satu sisi ia tidak tega meninggalkan saudari kembarnya begitu saja. Terlebih karena sikap keluarganya semakin aneh dan terlihat resah, bahkan Mardi juga, setelah Audy bercerita bahwa Ia tidak akan menerima lamaran Mardi sebelum Rose mendapatkan pasangan hidupnya.


Apa yang sebenarnya disembunyikan keluarganya sehingga di mata Audy mereka semua terlihat tidak suka jika Audy membahas Rose, bahkan Mardi juga.

Bagaimana hubungan Audy dengan Mardi, sanggupkah mereka bertahan dalam bayang-bayang Rose yang selalu mengikuti langkah Audy?


Sebuah novel yang apik, gaya bahasanya yang sederhana membuat saya mampu dengan cepat membaca cerita ini. Ide ceritanya juga cukup membuat penasaran karena bagaimana mungkin ada orangtua yg tega menganaktirikan anak kandung mereka sendiri? Kelemahan buku ini adalah beberapa typo di dalam tulisannya. Pada awalnya saya sempat berpikir bahwa cerita khas anak kembar ini kok malah kaya sinetron, yang tentu saja setelah di pertengahan cerita baru saya ketahui bahwa ceritanya berbeda meskipun pada awalnya terlihat sama.


Jadi... saya beri bintang empat untuk Lullaby.:D

Kopdar BBI + Solo dan Jogjakarta



Kalender menunjukkan tanggal 8 Januari 2011, sesuai jadwal yang telah disepakati sama temen-temen BBI Solo dan Jogjakarta, hari ini mereka bakal kumpul di rumahku. Peta udah saya berikan ke masing-masing person yang berencana datang, semoga mereka nggak kesasar. Maklum, rumahku berada di pelosok Solo. Sebenernya nggak jauh banget dari jalan utama tapi khas rumah di kampung, keluar masuk gangnya rumit kayak mencari jalan ke rumah semut.


Pukul 10.00 semua perlengkapan udah disiapkan, karpet udah digelar, kipas angin udah dinyalakan, buku-buku pesanan mereka yang rencananya akan dipinjem juga udah saya tumpuk, termasuk sajen makanan. :p . Yang pertama datang adalah Mas Yudhi Herwibowo, (penulis Untung Surapati, Mata Air Air Mata Kumari dan ownernya Penerbit bukukatta) mungkin karena rumahnya yang paling deket sama rumahku ya, jadi dia menguasai ”medan” dan nggak kesasar. Hoohoh, begitu dateng terlihat agak pucet gitu mukanya Mas Yudhi, setelah aku tanyain, ternyata tiga hari yang lalu dia jatuh terpeleset dari motor, alhasil kakinya keseleo dan.. bengkak. Bener-bener salut buat Mas Yudhi yang masih mau dateng kumpul sama kita-kita, padahal ya kakinya beneran bengkak. >_<


Kloter kedua yang dateng adalah Sulis @peri_hutan dan Bzee, eh bareng sebenernya sama duo dari Yogya, Dion @dion_yulianto dan Oky @okeyzz. Kecuali kalo Sulis berhasil sampe rumahku dengan tidak tersasar (soalnya dia udah berkali-kali main ke rumahku) tapi Si Dion dan Oky kesasar (--"), mereka akhirnya di drop bapak Supir taksi di AUB kampus III deket rumahku. Alhasil saya njemput Oky dulu, baru balik lagi ngajak Sulis buat jemput Dion.

Sulis dan Oky


Oke, personil udah pada dateng, jadilah bincang-bincang kita dimulai, apalagi kalau tidak membahas... buku. XD. Begitu Dion dan Mas Yudhi mengeluarkan buntelan buku mereka, kita-kita langsung nggak ragu buat ambil. Rejeki jangan ditolak. *eh*. Bahkan Suami juga ikut nyulik satu bukunya Mas Yudhi, tumben banget lo dia mau baca buku yg nggak ada hubungannya sama pelajaran. Heheheh. Berikutnya kita saling tukar buku pesenan, Sulis Si Ratu Romance, Dion Si Raja Fantasi, Sedangkan saya, Bzee sama Oky agak labil karena bukunya campur baur (pokoknya dapet pinjeman.. :D), Eh saya lupa bilang ya, Bzee @bzee_why ini temen dari GRI Solo. Lagi asyik ngobrol, eh nambah satu orang lagi dari GRI Solo juga yang dateng ke rumah setelah minta tolong dijemput Sulis (lagi-lagi karena rumahku yang terpelosok) di USB (deket rumahku juga), namanya Mbak Dani @daneeollie


Semakin ramelah rumah saya. Sebenernya acara ini bermaksud mempererat hubungan temen-temen BBI dan GRI Solo yang bisa hadir serta mengundang Mas Yudhi sebagai senior di bidang penerbitan, kepenulisan, dan promosi untuk sedikit mengulik hal-hal yang berhubungan dengan buku. Banyak yang diobrolin waktu pertemuan, Mas Yudhi bercerita bahwa Judul suatu buku terkadang harus diubah oleh penerbit dengan maksud untuk lebih menjual di pasar. Ini mungkin termasuk manajemen marketing ya, tapi entah kenapa menurut saya judul bukunya yang diubah kok malah terkesan alay gitu deh.. Bukunya Mas Yudhi pernah ada yang diganti jadi ” Basketball in Action”, dan seorang temennya juga pernah diganti judul bukunya oleh penerbit yang sama pula, berubahnya cukup ekstrim karena menjadi : ”Eh, akhirnya mereka berciuman”.


Dari buku, kita juga mbahas tentang kereta prameks yang sekarang ada gerbong khusus wanitanya. Sempet berandai-andai kalo ada Mas-mas terus diusir pindah gerbong, kira-kira gimana caranya biar dia tetep digerbong itu?

Ini hasil diskusi Mas Yudhi dan Dion. Yang sungguh waktu mereka cerita bikin kami yang cewek kebahak-bahak ndengernya.

Satpam : ”Mas, ini gerbong wanita, mas silakan pindah ke gerbong lain.”

Mas-mas : (memandang si Satpam, mengeluarkan aksi mautnya) ”Eh, Si Bapak, eke kan juga wanita” (tangan melambai gemulai ala cowok alay bin lebay).

Satpam : .....


Terus ceritanya juga nggak cuma ngebanyol, kita diskusi singkat tentang beberapa film yang baru diputer di bioskop Indonesia. Seperti cerita Sang Penari yang berdasarkan novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. Saya yang belum pernah baca buku atau nonton filmnya kemudian jadi tahu, ternyata itu cerita berlatar pemberontakan PKI di Banyuwangi. Juga bagaimana fakta bahwa masyarakat setempat benar-benar ”mengagungkan” Sang Ronggeng, bahkan sampai para wanitanya pun begitu mengidolakan wanita tersebut karena diyakini bahwa Ronggeng adalah titisan Dewa. Diskusi juga berlanjut tentang bagaimana kemantapan masing-masing pemain terhadap watak yang diperankannya, serta kritik yang ditujukan pada beberapa bagian filmnya yang terkesan ”terlalu bermetafora”.


serunya diskusi 'Sang Penari'


Yang paling seru adalah obrolan tentang beberapa penerbit, yang bagi penulis baru merupakan sebuah kesulitan untuk dapat bergabung dengan mereka. Selain karena terlalu banyak naskah, ada juga oknum penerbit yang memilih kalangan artis untuk menerbitkan cerita mereka di penerbitan tersebut. Tidak hanya itu yang dibahas, kita juga membahas beberapa penerbit yang ramah terhadap penulis baru.


Oh, dan kita juga saling pamer hadiah secret santa, oke, lebih tepatnya bukan pamer tetapi saling penasaran siapa secret santa masing-masing. Tapi.. tenang saja, rahasia itu masih kukuh tersimpan, kecuali.. sepertinya Dion udah tau siapa secret santa saya bahkan tanpa saya beritahu. XD


Jadi apa yang kita dapet setelah kopdar seru kemarin? Kalo saya dapet 8 buku hasil pinjeman dengan teman-teman, dapet 3 buku dari Mas Yudhi, 1 buku dari Dion, berhasil dapet tandatangan Mas Yudhi di buku Untung Surapati dan Mata Air Air Mata Kumari, dapet gantungan kunci dari Mbak Truly lewat Dion, dapet pin IRF (eh ada yg ngerasa ketinggalan Pin nggak kemarin?soalnya ada satu yang terselip di tumpukan buku), ada pembatas buku wayang dari Oky dan dapet sekeranjang salak dari Dion (terima kasih semuanyaa)


Bener-bener suatu kebanggaan dan keceriaan tersendiri dapat berkumpul dan mengenal kalian lebih dekat, teman-teman. :)

Mohon maaf kalo sebagai tuan rumah kemarin saya banyak kurangnyaa..


Semoga suatu saat bisa kopdar seluruh anggota BBI se-Indonesia. Aamiin.


Salam.


Pelapor : Alvina Ayuningtyas. @alvina13 , FB : Alvina Vanila. Email : orybun@yahoo.com

Januari 06, 2012

Pretties


Judul Buku : Pretties
Penulis : Scott Westerfeld
Penerjemah : Yunita Candra S.
Penerbit : Matahati
Cetakan Pertama : Oktober 2010
ISBN : 602-859-021-5

Masih ingat dengan Tally Youngblood? Ya, seorang buruk rupa yang kabur dari operasi perubahan menjadi rupawan sebelum ulang tahunnya ke-16. Di buku kedua ini, diceritakan bahwa Tally telah hidup bahagia di kota Rupawan Baru, tentu saja menjadi seorang yang sempurna, seperti cirri khas Kaum Rupawan. Kehidupannya bahagia, persahabatannya dengan Shay yang dulu sempat hancur sekarang kembali normal kembali. Tally bahkan juga sudah bisa berteman lagi dengan Peris, sahabat lamanya dari Uglyville.

Petualangan Tally dimulai ketika ia mencoba masuk dalam keanggotaan kelompok Crim, kelompok yang berisi anak-anak muda yang sering menantang bahaya dan kelompok yang disegani di Kota tersebut. Ketika proses inisiasi diadakan, Tally bertemu dengan Croy, seorang buruk rupa yang mengantarkan pesan bahwa Tally harus pergi ke Valentino 317. Diiringi rasa penasaran dan ditemani Zane, cowok keren yang merupakan ketua dari Kelompok Crim, Tally pergi dan mencari kamar 317 tersebut.

Tapi ternyata proses menemukan kamar itu sendiri telah memberikan efek besar bagi ingatan dan pikiran Tally. Dalam usahanya menemukan kunci kamar tersebut, ia merasa pikirannya lebih segar dan lebih tajam. Padahal Tally harus memanjat menara yang tingginya lima kali lebih tinggi daripada Valentino mansion itu sendiri. Di kamar ini, Tally menemukan sebuah surat dan 2 butir obat yang ditujukan untuknya.

Jalan cerita berikutnya mungkin sudah bisa ditebak, Tally harus melarikan diri dari kota Rupawan Baru. Tapi ke mana? Dengan siapa? Naik apa? (lhah kayak lirik lagu..)

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu yang dirangkai dengan apik oleh Si Penulis sampai menjadikan petualangan Tally kali ini tak kalah seru dengan Seri pertamanya. Meski saya bisa menebak endingnya, tetapi saya cukup puas dengan “tambahan” lain yang diceritakan penulis di akhir cerita.

Satu pikiran Tally yang saya suka,
" Setiap orang di dunia terikat pada tempat asalnya, namun setidaknya kau harus mencoba berpikir lebih luas. Kalau tidak, kau ibarat katak dalam tempurung, yang menyembah para dewa gadungan." (Hal. 320)

Penulis juga menyisipkan beberapa poin kehidupan di dalam cerita ini, seperti naluri alamiah manusia untuk merusak, untuk menghancurkan, tapi kita juga punya naluri untuk merawat, menyayangi dan mengasihi. Serta bagaiaman cerdiknya penulis membawa kita mempertanyakan ke”ada”an diri kita sebagai manusia. Apakah hanya pion yang diatur ataukah sebagai individu yang bebas dan merdeka? Serta bagaimana kekuatan alam itu sebenarnya. Bahkan ide mengenai bakteri pengurai minyak bumi itu membuat saya bergidik mendengarnya. Tentu saja bakteri seperti itu ada, hanya saja saya tidak tahu apakah efeknya bisa sedahsyat itu?

Jadi, tiga bintang untuk Pretties, dan saya penasaran bagaimana cerita Tally ini akan berakhir di buku ketiga?

Top 5 of Book Best Boyfriends

Ikutan postingannya temen-temen yang sedang memburu Top 5 of Book Best Boyfriends.

Sebenernya agak susah juga memilih 5, (pengennya lebih banyak lagi *eh*), tapi kayaknya 5 aja udah cukup ye.. :D


Untuk pilihan pertama, langsung jatuh ke Gerry Kennedy. Tokoh utama Pria di P.S I Love You, penulis : Cecelia Ahern


Kenapa saya milih dia di peringkat pertama? Karenaa... Arghh.. romantis banget si Gerry ini, bahkan setelah kematiannya pun ia masih mendukung Istrinya yang sedih dan putus asa. Waktu baca bukunya dan nonton filmnya, entah udah berapa tissue yang saya habiskan, lha ceritanya sedih bangeet.. Mungkin dia sosok suami terbaik yang pernah saya baca dalam buku.


Pilihan kedua jatuh pada Henry DeTamble , tokoh utama di The Time Traveler's Wife, penulis : Audrey Niffenegger.


Kenapa saya suka dia? Karena dia.. tipe Ayah yang sayang dan perhatian terhadap keluarganya dan terhadap orang-orang disekitarnya. Kadang nggak rela sama tokohnya yang dibikin bisa pergi antar waktu tapi nggak bisa mengendalikannya. Sama seperti filmnya, bikin nangis sesenggukan.


Pilihan ketiga? Hohohh.. jatuh ke Dimitri Belikov, di Vampire Academy yang ditulis Richelle Mead.


Dimitri di cerita Vampire Academy ini "angkuh" tapi "romantis", dia tipe cowok yang cool, cuek, tapi sayang banget sama pacarnya (Rose). Dia setia, melindungi, perhatian tapi dalam batas wajar, dan nggak posesif gitu deh.. :p


Pilihan Keempat jatuh ke... Jace Wayland di City of Bones nya Cassandra Clare.


Agak nggak sreg sih sama pemain filmnya, soalnya kurang mewakili kesangarannya si Jace. dan tatapan matanya kurang mewakili pekerjaannya. Kenapa saya milih Jace? Jace ini tipe cowok slengean tapi dia care sama adiknya. Dia juga tipe cowok yang bisa diajak ngobrol dan romantis. Hohohh..



Pilihan terakhir, saya sandangkan di bahunya Henri, si Alien dari Planet Lorien dalam buku I Am Number Four nya Pittacus Lore



Mungkin pada heran ya, kenapa Henri yang saya pilih kok bukannya Si John? Soalnya Henri ini cẻpan yang setia sekali, bahkan sampai ending cerita ini berakhir, saya masih mengagumi keteguhan dan rasa sayangnya yang besar terhadap keluarganya yang ditinggalkan demi menjalankan amanat untuk menjaga John.
Satu pesannya yang saya masih inget, "Saat Kau Kehilangan Harapan, segalanya pun musnah. Saat kau pikir semua telah berakhir, ketika segala sesuatu tampak buruk dan sia-sia, harapan itu selalu ada."


Yak, itu 5 tokoh Pria yang paling-paling mengesankan saya selama membaca buku di tahun 2011 kemarin. Mungkin Anda mau membuat versi Anda juga? :D
Januari 04, 2012

Kau


Judul Buku : Kau
Penulis : Sylvia L’ Namira
Editor : Kinanti Atmarandy
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 206 halaman
Cetakan ketiga : 2011
ISBN : 979-780-499-2

Namanya Viola Sembiring, nama panggilannya Piyo. Seorang gadis berusia 25 tahun yang masih fresh graduate dan bekerja di sebuah stasiun TV milik Om-nya, menjadi seorang reporter. Viola menjadikan awan sebagai sumber “firasat”nya. Jika awan memberi firasat bahwa ada bahaya, maka Viola akan memakai topi rajut warna merah sebagai penangkalnya. Jika tidak terlalu berbahaya, maka yang dipakai adalah topi rajut warna kuning. Jika awan bersekongkol dengannya menciptakan aroma keceriaan, topi rajut yang dipakai warna hijau. (Mungkin dia terinspirasi dari lampu lalu lintas)

Si Viola ini belum punya pacar padahal usianya 25 tahun yang membuat Mamanya kelabakan mencarikan jodoh untuk Viola. Jaman gini masih dijodohin? Ya.. Viola tentu saja menolak mentah-mentah. Tapi seperti kebanyakan adegan film “berSiti Nurbaya”, Viola harus segera memperkenalkan pacarnya sebelum deadline. Kalau nggak sukses, maka Viola harus mau dijodohin sama cowok pilihan Mamanya.

Kalang kabut awalnya tapi setelah bertemu seorang Laki-laki yang sesuai dengan kriterianya, mulailah kisah cinta Viola dimulai. Nggak banyak aral melintang dalam hubungan mereka sampai suatu tragedi terjadi.

Alur ceritanya cepat, bahasanya juga sederhana dan mudah dibayangkan. Sayang endingnya kok drastis sekali ya? Mudah ditebak tapi sebenernya nggak nyangka juga kalau bakal sesederhana itu. Kok tau-tau hilang terus muncul lagi? Terus kok tau-tau mencoba melupakan? Lha emangnya kenapa? Terus kok mamanya Si Pria juga berubah sikap begitu.

Satu lagi kelemahannya, mungkin akan lebih pas kalau namanya Viola nggak usah pakai Sembiring kali ya. Kan yang orang Sumatera itu Mamanya, bukan Papanya. *sekedar usul*.

Tapi mungkin Si Igo itu.. ah, waktu baca karakternya dan penampilannya, saya jadi inget sama Si Suami di rumah. Hohohhh. Lha kok mirip ya? *lirik kedip-kedip*.

3 bintang untuk buku ini.. :D

*review ini saya ikut sertakan di Romance reading Challenge 2012* Nomer 1. :D
http://thebookworm07.blogspot.com/2011/12/romance-reading-challenge-2012.html