Slide Show

Mei 31, 2013

Fiksi Lotus (Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia) Vol.1


Judul Buku :  Fiksi Lotus (Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia) Vol.1
Penerjemah : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama : April 2012
Tebal : 184 halaman, paperback
ISBN : 978-979-22-8353-2




Cerita klasik adalah cerita yang tidak kenal batasan waktu (Maggie Tiojakin, Fiksi Lotus Hal viii). Tetapi karya klasik terkadang menjadi momok bacaan yang cukup menakutkan bagi sebagian besar orang. Bukan karena isi ceritanya, tetapi lebih sering karena bahasa yang dipakai untuk menuturkan-lah yang cukup njelimet sampai kadang membuat pembaca lelah.

Mungkin itu yang mendasari Maggi Tiojakin begitu ingin mengenalkan karya klasik yang sederhana bagi para pembaca. Tentu selain alasan bahwa masih ada banyak karya klasik yang berupa cerpen yang belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia sehingga cukup sedikit yang mengetahui siapa saja Tokoh-Tokoh sastra klasik Dunia.

Melalui Fiksi Lotus Volume pertama, kita akan diajak mengapung, melayang hingga tenggelam dalam keunikan karya klasik. Ada 14 cerita pendek dalam buku ini yang masing-masing ditulis oleh seorang sastrawan klasik dunia yang bukan tidak mungkin namanya baru Anda kenal beberapa di buku ini.

Teka-teki adalah cerita pembuka pertama buku ini. Ditulis oleh Walter De La Mare, bercerita tentang kisah para cucu yang tinggal di rumah Neneknya. Rumah tua itu memiliki satu ruangan yang terlarang untuk dimasuki. Pesan moral cerita ini buat saya, bahwa terkadang menaati pesan orang yang lebih tua bisa menyelamatkanmu dari bahaya.

Cerita kedua adalah Ramuan Cinta yang ditulis oleh John Collier, sastrawan asal Inggris. Bercerita tentang seorang lelaki yang berniat membeli ramuan cinta untuk kekasih idamannya. Ada banyak jalan pintas menuju keberhasilan, tetapi tentu saja harga yang harus dibayar tanpa kita sadari sebenarnya sangat mahal.
 
Bjornstjerne Bjornson

Sang Ayah adalah cerita ketiga yaitu dari Bjornstjerne Bjornson, sastrawan yang pernah memenangkan Nobel Sastra tahun 1903. Tentang seorang Ayah yang seringkali menjadi perwakilan kisah dari apa yang dilakukan orang tua untuk anak-anaknya. Hingga akhirnya Sang Anak memberikan pelajaran berharga untuk orang tuanya, meski itu yang terakhir kalinya.




Pemberian Sang Magi dari O. Henry adalah cerita keempat di buku ini. Seperti cirri khas kisah-kisahnya, kali ini ia menceritakan sepasang suami isteri, kado natal dan harta berharga dalam twist ending yang menghanyutkan.

Menembus Batas karya Saki adalah cerita yang saya suka di buku ini. Bagaimana kisah dua orang yang berseteru dari lahir sampai dewasa, sampai turun – temurun ke anak-anaknya. Meski endingnya sempat membahagiakan, tak urung saya tersenyum kecut membaca paragraf penutup kisahnya.

Meski sejauh ini ada cerita-cerita yang gampang dinikmati, tetapi Sang Komandan milik Stephen Crane masih sulit saya ambil inti dan maksud moral ceritanya.

Ernest Hemingway

Siapa yang tak tahu Ernest Hemingway? Kali ini dia hadir dalam kisah para pelayan café dalam kisah Persinggahan Malam. Di cerita ini ia menggambarkan bagaimana pandangan dua orang yang memiliki usia dan pengalaman beda juga memandang cara hidup di dunia ini dengan berbeda pula.




Gegap Gempita milik Anton Chekov menjadi kisah selanjutnya di buku ini. Cerita klasik tak perlu selalu serius, sebab kali ini kita akan dihibur oleh Mitya Kuldarov dengan kelucuannya dalam membaca sebuah berita di Koran dari sudut pandang yang lain.

Charles milik Shirley Jackson adalah kisah yang unik menurut saya, meskipun sebenarnya sudah bisa ditebak endingnya. Tentang seorang bocah lelaki yang baru masuk sekolah TK dan memiliki teman yang super nakal bernama Charles.

Dering Telepon dari Dorothy Parker membuat saya tersenyum-senyum saat membaca. Bukan, bukan karena cerita komedi, tapi kisah ini benar-benar pernah saya rasakan saat masih berpacaran dulu. Tentang seorang gadis yang menunggu telepon dari cowok pujannya. Ya, jatuh cinta memang membuat yang dulu begitu menawan malah sekarang menjadi agak konyol jika dipikir-pikir lagi.

Berikutnya masih ada Pesan Sang Kaisar (Franz Kafka), Republick (Naguib Mahfouz) dan Menjelang Fajar (Jean-Paul Sartre) yang bisa Anda nikmati di buku ini.

W. Somerset Maugham
Sebagai kisah penutup adalah kisah lainnya yang saya suka dengan judul Kalung Mutiara karya W. Somerset Maugham. Penulis asal Inggris ini bercerita tentang kalung mutiara yang dikenakan seorang pelayan wanita saat diundang makan malam di rumah majikannya. Cerita yang berpotensi menjadi cerita detektif ini memiliki keunikan karena ia cerita di dalam rangkaian cerita yang dikisahkan seseorang.



Buat saya, cerpen adalah cara yang mudah menikmati sebuah bacaan. Meski terkadang ada juga cerpen yang membuat saya pusing memikirkan apa inti ceritanya seperti dalam kasus buku ini adalah pada kisah Sang Komandan dan Menjelang Fajar. Cerita kedua ini malah menghabiskan cukup banyak halaman sehingga membuat saya agak capek juga menikmatinya.

Menulis cerpen jauh lebih susah dari yang dulu pernah saya bayangkan. Penulisnya harus mahir memilih-memadatkan-mengakhiri sebuah kisah dengan kesan dan cirri khasnya yang unik. Demikian pula yang ada di buku ini, semua penulisnya seakan memiliki sidik cerita yang membedakan gaya kisahnya antara satu dengan yang lain.

Untuk Volume satu ini, saya rasa 4 bintang layak disematkan karena membuat saya jauh lebih mudah menikmati sebuah karya sastra klasik :)


Posting ini dalam rangka Baca Bareng BBI dengan tema Kumcer :)

Mei 30, 2013

The Old Man and The Sea




Judul Buku : The Old Man and the Sea
Penulis : Ernest Hemingway
Format : ebook, 37 halaman


The Old Man and The Sea adalah salah satu karya fenomenal Hemingway, selain mendapatkan penghargaan Pulitzer di tahun 1953, karya ini juga mengantarkan Hemmingway memperoleh Nobel di Bidang Sastra pada tahun 1954. Hal ini yang mendorong rasa penasaran saya untuk membacanya, beruntung karena ada event baca bareng BBI tentang Klasik Kontemporer dan cerita ini masuk ke dalam genre tersebut, jadilah saya memutuskan menikmati kisah ini.

Seorang lelaki tua bernama Santiago sudah melaut selama 84 hari, sayangnya belum ada satupun ikan yang berhasil ia tangkap. Di awal perburuannya, ia ditemani seorang anak muda bernama Manolin, yang sangat akrab dengan Santiago. Tapi sayang setelah 40 hari, anak lelaki ini dilarang orang tuanya untuk melaut lagi dengan Santiago. Mereka menyebut Santiago ‘salao’, yang terburuk dari yang tak beruntung. Manolin disuruh ikut perahu lain yang mencri ikan, meski mendapat hasil yang sedikit tapi jauh lebih baik daripada tidak mendapatkan apapun seperti si Santiago.

Di hari ke-85, Santiago kembali melaut seorang diri. Kali ini umpannya dimakan seekor ikan yang sepertinya berukuran besar. Tetapi rupanya ikan ini memiliki daya tahan yang kuat, ia tidak pasrah begitu saja ditangkap Santiago tetapi malah sebaliknya, Santiago yang harus berjuang keras mengalahkan ikan tangkapannya tersebut. Ternyata bukan hanya sehari yang dibutuhkan Santiago untuk mengalahkan ikan ini, tetapi butuh berhari-hari sampai ikan itu berhasil dikalahkannya. Selama berhari-hari terapung di laut, Santiago sering menguatkan dirinya sendiri untuk terus bertahan memenangkan pertarungannya dengan si ikan. Ketika bekalnya habis, ia mendapatkan asupan makan dari ikan ikan lain yang mendekati perahu Santiago. Dehidrasi, Tangan yang kram karena terlalu lama memegang kail, letih dan tubuh tuanya yang tak lagi sehat sempurna adalah beberapa kesulitan yang dialami Santiago di atas kapal.

Belum lagi ketika ikan itu juga diburu oleh hiu, Santiago harus melawan hiu-hiu yang mencoba merebut hasil tangkapannya. Terus sampai ke daratan, kembali pulang. Dan ternyata, ia mendapatkan ikan sepanjang 18 kaki (lebih dari 6 meter), jauh lebih besar daripada perahunya sendiri!

Sebenarnya jalan cerita kisah ini cukup sederhana, tetapi Hemingway tidak diragukan lagi mampu membangun suasana, penokohan dan latar cerita yang kuat. Ia memberikan detail tentang Si Pak Tua sejak awal kisah ini dimulai yang membuat pembaca mampu membayangkan seperti apa Si Santiago ini, sedikit cuplikannya : 


“...... Everything about him was old except his eyes and they were the same color as the sea and were cheerful and undefeated”


Saat di laut, Santiago mengalami pergumulan batin yang sulit. Ia berkali-kali ‘nelangsa’ karena berharap seandainya saja ada Manolin turut bersamanya, pasti akan ada yang membantunya menangkap ikan tersebut dan ia tak akan terlalu kesulitan dengan tubuh tuanya karena dibantu dengan tubuh muda si Manolin. Banyak percakapan yang dilakukan seorang diri oleh Santiago, dan lelaki tua ini juga seorang yang perasa dan berwelas asih. Saat menghalau hiu yang ingin mencicipi hasil perburuannya, Santiago sempat merasa bimbang apakah ia membunuh hiu tersebut sebenernya demi kesenangannya saja atau demi buruannya. Tapi toh Santiago membuktikan diri bahwa ia benar seorang pejuang, ia berjuang mendapatkan apa yang ia inginkan bahkan jika waktu yang diperlukan sangat lama, lalu setelah ia dapat, ia juga mempertahankan apa yang menjadi miliknya tersebut.

Di darat, Santiago juga bersikap rendah hati dan sabar meski orang-orang mengejeknya karena ia belum mendapatkan ikan dalam jangka waktu yang lama. Persahabatannya dengan Manolin bisa dibilang unik, karena Manolin mungkin menganggap Santiago sebagai guru, karena Santiagolah yang mengajarinya dan mengajak Manolin memancing sejak kecil.

Secara keseluruhan, novel ini memang memiliki kekuatan di pesan moral yang disampaikan penulis lewat tokoh utamanya. Tidak salah bila banyak orang mengatakan novel ini telah menginspirasi mereka untuk berjuang dan pantang menyerah dalam hidup.
Banyak kutipan yang bagus sih, tapi saya ambil satu aja yah..


“Luck is a thing that comes in many forms and who can recognize her?”


Buku yang menarik, bukan? Apalagi tidak terlalu tebal, meski bahasanya saya akui ‘sedikit berat’ tetapi saya rasa sudah ada versi terjemahannya di Indonesia. Jadi mungkin Anda akan menyukainya, dan ikut bersama Santiago melaut berburu ikan dan menombak Hiu. :)
Mei 29, 2013

Wishful Wednesday #43

Aku kembaliii.. (eciyeh).. XD

Mumpung sempet online (sambil nemenin si kecil bobok), posting WW dulu ah.. XD

Ini buku langsung masuk Wishlist saya begitu lihat covernya. Iya, karena ada naganya!! (saya kan penggemar Naga XD)




Selama empat dekade, manusia dan naga di kerajaan Goredd berdamai. Kaum naga mewujud menjadi manusia dan menyumbangkan pikiran mereka yang rasional serta matematis. Namun, akhir-akhir ini hubungan di antara kedua kaum memburuk. Apalagi ketika salah satu anggota kerajaan terbunuh dan ada kecurigaan bahwa pelakunya naga.

Sebagai musisi yang sangat berbakat, Seraphina Dombegh bergabung dengan kelompok musisi istana. Ia kemudian mau tidak mau terlibat dalam penyelidikan pembunuhan itu, bekerja sama dengan Pangeran Lucian Kiggs yang sangat awas.

Sementara mereka mulai membongkar rencana jahat untuk menghancurkan perdamaian, Seraphina berjuang melindungi rahasianya sendiri, rahasia di balik bakat musiknya yang luar biasa, rahasia yang begitu mengerikan sehingga dapat membahayakan nyawanya
 
Semoga cepet bisa kesampaian punya..(amin) *lirik yang mau kasih buntelan


Seperti biasa, kalau kamu ingin ikutan eventnya Perpus Kecil, begini caranya :


1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =) 
2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya! 
3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian. 
4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)


Istana yang Bergerak – Howl’s Moving Castle #1





Judul Buku :  Istana yang Bergerak – Howl’s Moving Castle #1
Penulis : Diana Wynne Jones
Alih Bahasa : Syaribah Noor Brice
Penerbit  :Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama : Juli 2009
Tebal : 328 halaman, paperback
ISBN : 978-979-22-4729-9





Sophie Hatter adalah anak sulung dari tiga bersaudari, ia seringkali beranggapan bahwa menjadi anak sulung seringkali menjadi yang agak kurang beruntung. Hal in diperkuat ketika Ibunya mengatakan bahwa ada masalah dengan bisnis topi mereka, sehingga dua adik Sophie dikirimkan ke rumah sahabat-sahabat Ibunya yang lebih mapan. Tapi tidak dengan Sophie, ia tinggal di rumah, membantu ibunya menghias topi di toko dan sesekali melayani pembeli. Makin lama, Sophie makin terlihat lesu dan tak bersemangat, kemudian ia memutuskan untuk mengunjungi dua adiknya, Lettie dan Martha, sekadar menanyakan bagaimana kabar mereka.

Di perjalanan, Sophie agak was was karena saat itu kota mereka didatangi oleh Penyihir Howl (yang kabarnya suka memakan perempuan) dan seorang Nenek Sihir dari Waste. Nenek sihir ini (menurut gosip) telah membunuh Penyihir Suliman, penyihir istana. Tapi syukurlah, Sophie berhasil menemui adik-adiknya. Mereka terlihat menikmati hidup barunya, bahkan mereka merasa kasihan kepada Sophie yang seakan diperbudak ibunya sendiri. Ini membuat hari-hari Sophie berikutnya menjadi tidak tentram, ia seringkali berpikir bahwa mungkin saja ibunya memang mengekploitasi dia.

Suatu hari, toko topi kedatangan seorang wanita yang menanyakan jenis topi tertentu. Sophie yang sedang tidak mood melayani pembeli tersebut dengan ogah-ogahan. Sialnya, ternyata wanita itu adalah si Nenek Sihir! Tanpa babibu, ia menyihir Sophie menjadi seorang nenek tua. Sophie sangat ketakutan, dengan panik ia melarikan diri dari rumah entah menuju ke mana, sampai ia memiliki ide untuk mendatangi kastil Howl yang selalu berpindah-pindah.Toh penyihir Howl tidak akan memakan daging wanita renta sepertiku, pikirnya.

Penyihir Howl rupanya tidak sejahat yang orang-orang kira, ia malah memiliki murid, seorang anak lelaki bernama Michael, juga memiliki jin api yang bernama Calcifer. Sophie menghabiskan waktunya di sana, membersihkan kastil yang amat sangat kotor tersebut, memasak, sesekali mengobrol dengan Michael. Tapi yang tak seorangpun tahu, Sophie diam-diam mengikat perjanjian dengan Calcifer, untuk membebaskan Calcifer dari Penyihir Howl.

Bagaimana akhir cerita Sophie? Apakah ia bisa bebas dari kutukan Si Nenek Sihir? Atau ia akan berada di istana Penyihir Howl sepanjang hidupnya?

Tadinya saya tidak berharap banyak pada cerita ini, tetapi siapa sangka, cerita ini memiliki banyak petualangan dan sihir, dua hal yang sangat saya suka! Dimulai dari cover, awal membaca mungkin saya nggak akan ngerti maksud dari cover buku ini, selain ada kastil yang memiliki kaki (mungkin maksudnya si Istana Howl yang bisa pindah-pindah tempat). Nah di pojok-pojok cover, ada gambar api, anjing, orang-orangan sawah dan seorang nenek tua. Yah, pastinya si Nenek pergambaran si Sophie, si Api pergambaran si Calcifer, dan dua gambar lainnya? Aih, kalau saya cerita nanti jadi spoiler donk yak. XD

Sophie adalah tokoh yang unik, dia perpaduan sifat keras kepala dan penyayang, dia perhatian tapi kadang juga bertingkah menyebalkan. Sophie selalu ingin tahu, dan dengan berubahnya ia menjadi wujud nenek-nenek, ia menjadi jauh lebih berani. Meski Sophie tokoh utama, tapi saya lebih suka dengan si Penyihir Howl. Yah, dia penyihir tampan yang urakan, kadang egois, tapi diam-diam perhatian. XD

Cerita ini menurut saya layak dibaca anak-anak yang berusia 8 tahun ke atas. Selain bahasanya yang mudah dipahami, tokohnya juga nggak banyak dan petualangannya juga seru. Eits, ada sedikit bumbu romantisnya, tapi yah.. sedikiiit sekali. Jadi nbuat yang epnyuka cerita fantasi, well, buku ini wajib kamu koleksi :D
Mei 27, 2013

Alice In Wonderland



Judul Buku : Alice In Wonderland
Penulis : Lewis Carroll
Edisi : ebook#11 ; Project Gutenberg. 69 hal.
Usia kelayakan pembaca : lebih dari 12 tahun

Alice in Wonderland adalah salah satu cerita yang sudah saya kenal sejak kecil. Hanya saja, saya lebih sering menonton kartunnya atau filmnya, terkadang juga cuplikan ceritanya yang diterbitkan dalam kumpulan cerita Disney. Hal yang membuat saya suka adalah negeri Ajaib tempat Alice ‘berkeliaran’, negeri itu benar-benar ajaib, sampai sekarang saya masih berpendapat begitu.

Suatu hari, Alice mengejar seekor kelinci masuk ke dalam lubang. Ia masuk ke lubang yang dalam, jauh ke dalam tanah hingga akhirnya berhasil mendarat di sebuah ruangan besar dengan banyak pintu. Siapa sangka, lubang kelinci inilah awal mula Alice masuk ke negeri ajaib. Ia bertemu hewan-hewan yang bisa berbicara, berlomba dengan mereka, berpesta minum teh, memakan jamur yang bisa menjadikan ukurannya besar dan kecil, bertemu Sang Ratu dan bermain kriket bersamanya, bertemu kura-kura tiruan dan masih banyak petualangannya sampai akhirnya ia kembali ke dunia aslinya dalam bentuk semula.

Tadinya saya membaca versi terjemahan dari buku ini, tapi entah mengapa terjemahannya kaku dan puisi (atau lagu) di dalam cerita ini malah diterjemahkan ‘apa adanya’. Setelah berhenti di bab keempat, saya memutuskan membaca ulang buku ini dalam versi aslinya, kebetulan ada di proyek Gutenberg. Setidaknya dalam versi ini, saya harap bisa jauh lebih menikmati kisah Si Alice di Negeri Ajaibnya. Eh ternyata.... nggak juga. Secara keseluruhan saya akui ini adalah buku yang ‘berat bahasanya’, meski kalau dibandingkan dengan 100 tahun kesunyiannya Marquez, buku ini jelas lebih menyenangkan untuk dinikmati. Alice in Wonderland memang tipis, ceritanya tentang anak-anak, tapi bahasa yang digunakan Carroll dalam cerita ini seakan bukan bahasa anak-anak. Saya sering bingung karena percakapannya kaya ambigu gitu, malah kaya percakapan orang dewasa (yang saya juga ga yakin apa ada orang dewasa mbahas kaya beginian)


'I do,' Alice hastily replied; 'at least—at least I mean what I say—that's the same thing, you know.'
'Not the same thing a bit!' said the Hatter. 'You might just as well say that "I see what I eat" is the same thing as "I eat what I see"!'


Atau percakapan Alice dengan si Kucing


“Would you tell me, please, which way I ought to go from here?"
"That depends a good deal on where you want to get to."
"I don't much care where –"
"Then it doesn't matter which way you go.”


Alice adalah gadis kecil yang sangat penasaran, selalu ingin tahu, yah, seperti anak kecil pada umumnya, sih. Nggak sabaran, cerewet, bahkan kalau dipikir-pikir lagi, Alice agak menyebalkan. Tapi tanpa sifat-sifat Alice tersebut, jelas cerita ini nggak mungkin ada donk. XD

Yang saya suka dari cerita ini adalah Wonderland nya, yang benar-benar ajaib. Terus bahasanya yang meski membingungkan, anehnya malah terasa indah! Terus puisinya yang bentuknya unik dan kalimatnya berima





 .... dst

Novel yang ditulis tahun 1865 ini pantas masuk ke jajaran 1001 Books You Must Read Before You Die, selain karena keunikannya, cerita di dalamnya juga ‘nggak basi’, alias bisa diikuti meski jamannya sudah berbeda. Yah, kalau penasaran, silakan coba baca sendiri... Cuma 12 bab, kok. :)

Mei 06, 2013

Rapid Fire Question



Pagi pagi di hari Senin baru mulai ngerjain PR Rapid Fire Question dari Mas Tezar. Ini semacam pertanyaan berantai gitu, asyik sih, jadi bisa blogwalking plus X).

Ini daftar pertanyaannya :


1. nambah atau ngurangin timbunan?
2. pinjam atau beli buku?
3. baca buku atau nonton film?
4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
5. (penting) buku bajakan atau ori?
6. gratisan atau diskonan?
7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
9. pembatas buku penting atau biasa aja?
10. bookmark atau bungkus chiki?

Pertanyaan tambahan dari Mas Tezar :

11. harry potter atau hermione?
12. obral gramedia atau diskon toga mas?
13. Musashi atau Taiko?
14. alamat kirim buku kantor apa rumah?
15. buku children apa young adult?

Jawaban sayaaa :

1.      Nambah. Errr, disambi ngurangin juga lah yaa, kalo ga gitu bisa ketiban timbunan yg makin menjulang X)
2.      Tergantung sih. Kalo bukunya berseri dan saya koleksi, jelas beli donk yaaah. Tapi kalo disuruh milih salah satu sih, pinjem deh. Biar kata minjemnya ampe tahunan *lirik yg di sebelah
3.      Pingin milih nonton film, sih.. tapi secara saya jarang banget ‘dibolehin’ nyetel tipi sama yang mbaurekso tipi (a.k.a si O), jadi saya milih baca buku aja kali ye..
4.      Offline. Seneng aja gitu pegang pegang buku baru, meski nantinya Cuma beli satu buku X)
5.      Jelas ori dooonk.
6.      Gratisan yaaaahh.. :D
7.      Akhir akhir ini sering pre-order. XD
8.      Terjemahan. Meski kadang kaya gambling gitu kalo baca buku terjemahan, iya kalo terjemahannya cocok, kalo ngga... ya... nasib.
9.      Iyaah saya lebih suka pake bookmark daripada ngelipet halaman buku :)
10.  Haduh bungkus chiki mah kegedeaaaaan, bungkus permen tuh lebih cocok. Atau tiket kereta. *kebiasaan. Kalau pilihannya Cuma bookmark atau bungkus chiki, saya milih bookmark deh
11.  Hermione
12.  Obral gramedia, kalo diskon TM kadang stress nyari bukunya karena susunannya sembarangan
13.  Apaaah ituuuu? *belum kenalan. Musashi kali ya. Seri satu dulu, gituh.
14.  Rumah
15.  Children. Lebih ringan dan ngga bikin stress X)

Menjawab pertanyaan erdeaka, di erdeaka's book review
11. menandai quote dengan stabilo ato stiker?
12. fiksi ato non-fiksi?
13. baca buku fisik ato e-book?
14. baca buku sambil tiduran + denger radio, tiduran+ngemil, ato tiduran +twitteran? (pilih salah satu)
15. membaca buku untuk menghibur diri ato untuk menambah luas wawasan?
jawab :
11. stabilo (ga punya stiker)
12. Jelaaas fiksiiii donk XD
13. Buku fisik :D
14. Tiduran sambil ngemil. (meski lebih sering cemilannya duluan yg habis daripada bukunya)
15. aduh kalo ini sih tergantung bacaan yaaah XD. Tapi aku milih 'menambah luas wawasan' deh :P

Aduh karena aturannya harus lempar ke 5 orang lagi, jadi saya lempar ke, Sinta, Ocemei, Stefanie, Bree dan Mia :p

Jadi cukup njawab 10 pertanyaan utama di atas, ditambah 5 pertanyaan tambahan dari saya. Nah Pertanyaan tambahannya
11. Koleksi serial, yes or no?
12. Baca buku di kasur atau di kursi?
13. Lebih suka baca buku dulu atau nonton filmnya dulu?
14. Komik atau novel grafis?
15. Meminjamkan atau dipinjamkan?

Hihi, selamat menjawaaab :p