Slide Show

Desember 17, 2020

Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau

 



Judul Buku : Mengapa Luka tidak Memaafkan Pisau

Penulis : M Aan Mansyur

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 98 halaman, paperback

ISBN : 9786020644813

Cetakan Pertama : Desember 2020


Rasanya ngga lengkap kalau buku terakhir yang saya baca di tahun ini ngga direview. Jadi biar lah ya saya review meski sekelumit dan tak mendalam. 

Mengapa Luka Tidak memaafkan Pisau adalah buku puisi yang terdiri dari lima babak. Bagi saya dua babak pertama terasa lebih romantis daripada babak belakangnya.


Meski romantis tapi sebenernya ngga manis manis amat sih. Sederhana, tapi telak. Tepat dalam penggunaannya. Tapi tentu saja ada bagian yang rumit.

September 06, 2020

The Tattooist of Auschwitz

 



Judul Buku : Juru Tato dari Auschwitz ( The Tattooist of Auschwitz)

Penulis : Heather Morris

Alih bahasa : Lulu Wijaya

Editor : Rosi L Simamora

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan pertama : 2018

Tebal : 304 halaman (baca di Gramedia Digital)

ISBN : 978-602-06-4281-9



Hanya kematian yang abadi di tempat ini


Kereta hewan itu menuju Auschwitz, bukan berisi sapi atau hewan ternak lainnya. Melainkan berisi pria-pria yang berdesak desakan dengan paksa di setiap gerbongnya, Lale termasuk salah satunya.


Sebagai seorang Yahudi, Lale mengetahui adanya pengumuman untuk menyetorkan seorang lelaki dari setiap rumah untuk membantu pemerintah Jerman yang sedang berperang. Maka berangkatlah ia dari kota kecilnya di Slovakia, menuju Praha untuk kemudian dibawa ke camp konsentrasi pekerja paksa.


Setelah diproses penatoan dan pemberian seragam, Lale dan kelompoknya dibawa ke Auschwitz dua yang juga disebut Birkenau. Di sini ia ditempatkan di Blok 7 bersama beberapa tahanan lainnya. 


Selang beberapa bulan, Lale terkena tifus yang cukup parah hingga tak sadar beberapa hari. Tetapi teman temannya menjaganya agar tetap hidup dan tidak ketahuan penjaga SS. Ketika ia akhirnya bangun, ia bertemu Sang Penato di kamp tersebut dan dijadikan asisten. 


Tapi suatu hari, sang penato tak pernah muncul lagi. Sejak itulah hari-hari Lale sebagai Tatowierer dimulai.


Salam,

Salam,