Juli 24, 2015

She





Judul Buku : She
Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ketiga : Juli 2015
Tebal : 246 halaman, ebook (getscoop.com)
ISBN : 978-602-03-1794-6


“Oh ya, gue belum tahu nama lu”
“Dhinar pake H”
“Dinar-H?”
“Bukan”
“Dina-Hr?”
“Bukan”
“Din-Har?”
“Bukan”
“Dih-Nar?”
“Bukan, bukan, bukan!”
“D-H-I-N-A-R, DHINAR!”
“Oooh.. Dhinar?”



Dinar dan Dhinar bukanlah saudara kembar, saudara jauh pun juga bukan. Mereka berkenalan pertama kali secara tidak sengaja ketika hendak membeli komik Conan dan kemudian berlanjut ketika keduanya satu kelas saat mengambil kursus Bahasa Jepang.

Dinar adalah sosok gadis yang mandiri, percaya diri dan seringkali semaunya sendiri. Ia tidak malu atau sungkan untuk mengekspresikan perasaannya, tidak pula merasa takut untuk memilih apa yang menjadi keinginannya. Hidupnya dijalankan dengan enteng, hari-harinya diisi dengan tawa dan keceriaan sehingga ia amat disukai orang orang di sekitarnya. Perangainya yang ramah dan mudah bergaul juga membuatnya memiliki banyak teman, bahkan ia menjadi ketua geng Genki Ji, komunitas pencinta anime dan manga di Semarang.

Sedangkan Dhinar, amat berkebalikan dengan Dinar. Dhinar seorang bintang kelas, nilai pelajarannya selalu memuaskan, bahkan dia selalu menyempatkan diri untuk belajar seakan akan itu adalah hobinya. Dhinar selalu berpikir logis dan teratur, tindakan tindakan yang dia lakukan sudah dipikirkan masak masak mengenai untung ruginya. Meskipun seringnya dia menjalankan apa yang diinginkan orang lain terhadap dirinya, bukan berdasarkan keinginan Dhinar sendiri. Kecuali untuk hobi membaca komiknya yang dilakukan diam diam, sebab kalau orang tuanya tahu, mereka pasti murka dan membakar koleksi komik Dhinar, seperti yang dulu pernah terjadi.

Berkenalan dengan satu sama lain, membuat Dhinar maupun Dinar jadi melihat segala sesuatunya jadi berbeda. Dhinar mulai merasa tidak nyaman dengan rutinitasnya serta kebiasaan-kebiasaannya, sedangkan Dinar jadi kepikiran betapa sempurnanya Dhinar jika dibandingkan dengan dia yang slengean. Terus gimana kelanjutan ceritanya? Nah, baca sendiri yaak..

Buku ini ceritanyaa sederhanaa banget, bahkan bisa jadi ada di sekitar kita atau mungkin kita sendiri yang pernah mengalaminya. Saya jadi ingat sewaktu SMA dulu pernah satu kelas dengan anak laki laki bernama Alfian, setahun penuh kami diisengi oleh wali kelas sendiri. "Iyaa, Alfi.... silakan maju ke depan." Lalu saya dan Alfian akan celingukan berdua karena ngga yakin yang dipanggil si Bapak Wali Kelas itu tadi Alfian atau Alvina. x___x

Atau hal lain, seperti pendaftaran lomba atau di rumah sakit, atau sekadar berkenalan dengan orang baru, saya jarang menyebutkan Alvina dengan V sih, seperti halnya Dhinar dengan H, yang alhasil sebagian besar mereka akan menuliskan nama saya dengan Alfina atau Alpina. Ya, seperti merk tas. X(

So, yeah, Dhinar, i feel you.

She ini agak sedikit membosankan sih, tapi karena peran para laki, jadi lebih lucu dan berwarna. Tokoh favorit saya, si badung Flemming. Slengean sih, but i love him. Dibandingkan dengan Incognito atau Touche, saya lebih suka Touche sih, mungkin karena She ini juga merupakan awal awal karir penulisnya, jadi masih butuh polesan lebih yak. Tapi saya menikmati kok, meski agak ngga mudeng sama judul judul manga atau anime di dalam ceritanya XD
1 komentar on " She"
  1. khas banget tema teenlit nya yg g berat. jd penasaran

    BalasHapus

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,