Desember 31, 2012

The Time Keeper – Sang Penjaga Waktu




Judul Buku : The Time Keeper – Sang Penjaga Waktu
Penulis : Mitch Albom
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama : Oktober 2012
Tebal : 312 halaman, paperback
ISBN : 978-979-22-8977-0

Rasanya tak berlebihan jika saya mengatakan bahwa banyak orang di dunia ini mempertanyakan tentang waktu. Demikian pula dengan saya sendiri, yang ketika membaca prolog pada buku ini, saya bertanya-tanya dalam hati.. Apakah suara saya juga terdengar oleh dia, Sang Penjaga Waktu, ketika saya selalu menanyakan mengapa waktu terlalu cepat berlalu, mengapa waktu tidak berhenti saja sebentar terutama saat kalender penuh deadline tugas, kerjaan bahkan untuk urusan sepele perihal film yang ditayangkan di televisi.


“Hanya manusia yang mengukur waktu.”-Hal.17


Dahulu kala ketika tak seorangpun mempertanyakan tentang waktu, hidup mengalir begitu saja, tak ada yang terburu-buru tak ada yang merasa dikejar oleh waktu, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Dor. Anak yang cerdas ini tumbuh dewasa dikelilingi dengan pengetahuannya yang makin berkembang tiap harinya. Ia begitu penasaran dengan waktu, meski belumlah kata tersebut dikenal seperti itu. Ia mengukur dan menandai pergantian hari, pergerakan bulan, sampai suatu hari istri tercintanya sakit.

Tunggu, sebelum itu mari saya jelaskan terlebih dahulu. Dor menikah dengan teman sepermainannya waktu kecil, Alli namanya. Seorang gadis yang tumbuh menjadi wanita penyabar, pengertian dan mungkin satu-satunya orang yang mendukung Dor apapun yang ia lakukan. Karena perselisihan Dor dengan Nim, yang dulu juga teman bermain waktu kecil, Dor dan Alli harus meninggalkan kampung halaman dengan menitipkan anak-anak kepada nenek-kakek mereka.

Lalu tibalah hari itu, ketika Dor merasa ia harus menghentikan waktu yang dimiliki para Dewa. Kematian Alli menghancurkan hati Dor sehingga ia berlari menaiki menara yang dibangun Nim dan para budaknya, menara Babel yang katanya mencapai ke kediaman Dewa-Dewa. Dor harus ke sana, menghentikan waktu yang selama ini telah diakrabinya.


menara Babel, ilustrasi dari markmallett.com

Tapi ternyata Dor tidak pernah sampai puncak menara, ketika menara itu hancur, rubuh akibat banyak orang yang berlomba-lomba mendaki tangga menara bersama Dor, ia malah dipindahkan ke sebuah gua yang entah di mana tempatnya. Gua tempat Dor kemudian menjadi seorang yang mendengarkan keluh kesah manusia tentang waktu. Ia yang merupakan manusia pertama penanda waktu kemudian dipilih menjadi seorang penjaga waktu sampai nanti ketika langit dan bumi menyatu.

Sementara itu di masa sekarang ini diceritakan pula kisah seorang lelaki tua bernama Victor dan seorang gadis bernama Sarah. Keduanya adalah sedikit dari banyak suara yang didengar Dor di dalam gua. Tak mengenal satu sama lain, Victor dan Sarah adalah contoh dari orang-orang yang menganiaya waktu mereka sendiri, dan kisah mereka berdualah yang kemudian berhubungan dengan kisah Sang Penjaga Waktu.

Victor seorang pengusaha sukses, orang terkaya nomor empat belas di dunia yang divonis bahwa umurnya paling lama tinggal dua bulan lagi, dan ia terus mencari cara agar ia kelak bisa hidup dalam keabadian. Sedangkan Sarah adalah seorang gadis yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung tidak memiliki teman, karena ia sangat pintar tapi penampilannya tidak terlalu cantik. Kehidupannya biasa saja sampai ia bertemu dan jatuh cinta terhadap Ethan seorang kenalannya di tempat ia bekerja sosial di penampungan.

Bagaimana kisah mereka berhubungan satu sama lainnya? Apakah manusia memang perlu mengejar-ngejar waktu yang dianugerahkan pada mereka, ataukah mereka sebenarnya tak mengerti anugerah waktu itu sendiri?

Setelah membaca buku ini, sejujurnya saya seperti mendapat tamparan keras di pipi, karena saya adalah salah satu orang yang sering mengeluh tentang waktu. Mungkin perihal biasa, karena hanya ia satu-satunya alasan yang buat saya ‘layak’ untuk disalahkan jika kerjaan terlalu banyak tenggat terlalu cepat, urusan tak terkendali lagi. Padahal waktu adalah hadiah.

Buku yang terdiri dari 81 bab dalam 12 bagian ini mengantarkan pembacanya dalam pemahaman baru dalam memandang bagaimana waktu berlalu. Bahasa yang filosofis, terjemahan yang manis dan kekuatan kata-kata di dalamnya yang membuat saya menyukai buku ini.  Tiga tokoh utama dalam cerita ini, yaitu Dor, Sarah dan Victor mencerminkan sikap dan watak manusia yang tak berubah meski jaman telah berganti. Semenjak kita mulai bisa menandai waktu, kita selalu merasa kehabisan stok waktu itu sendiri. Tak jarang kita sendiri berharap memiliki waktu yang tak terbatas.


“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”
“Mengapa?”
“Supaya setiap hari itu berharga.”-Hal.288


Kepandaian penulis dalam menyatukan para tokoh utamanya juga diceritakan dalam kisah yang unik, mereka yang tak pernah bertemu bahkan mengenal satu sama lain dan dari masa yang berbeda ternyata memiliki kisah hidup yang saling berkaitan.


“Manusia saling terkait dalam cara-cara yang tidak dipahaminya-bahkan dalam mimpi-mimpi”-Hal.107


Pelajaran yang saya dapatkan setelah lembar akhir buku ini saya tutup adalah, bahwa kita harus lebih menghargai waktu dengan merayakannya bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Bahwa waktu meskipun ada banyak yang diberikan untuk kita, tetap tidak akan cukup untuk dihabiskan memenuhi nafsu kita akan segalanya, kekuasaan, pekerjaan, kekayaan, keabadian, tapi waktu yang sedikitpun akan jauh lebih berharga jika ia dihabiskan untuk menikmati cinta, menikmati hidup itu sendiri tanpa harus mengkhawatirkan waktu yang berlalu.

Liburan yang usai, tahun yang berganti, bulan yang baru, tapi sudahkah kau habiskan hari ini untuk menyapa ia yang mencintaimu?


Sedikit tentang Mitch Albom :
Mitchell David Albom lahir pada 23 Mei 1958, seorang penulis, jurnalis, penulis naskah, penyiar radio dan televisi serta seorang musisi. Lima buku telah ia terbitkan, yaitu berjudul Tuesdays with Morrie (1997) , The Five People You Meet in Heaven (2003), For One More Day (2006), Have a Little Faith: A True Story (2009)  dan The Time Keeper (September 2012). Jika ingin lebih banyak mengetahui tentang beliau, kamu bisa mengunjungi websitenya di http://mitchalbom.com/d/



4 komentar on "The Time Keeper – Sang Penjaga Waktu"
  1. buku ini masuk wishlist tapi belom kebeliii, huhu..
    habis dimarahin gegara bulan desember besar pasak daripada tiang.. XD

    BalasHapus
  2. Baru mau akan beli,, :(

    BalasHapus

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,