Januari 20, 2016

Handle With Care –Sentuh dengan Hati-hati




Judul Buku : Handle With Care –Sentuh dengan Hati-hati
Penulis : Jody Picoult
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 640 halaman
ISBN : 9786020308456

 Willow berusia enam setengah tahun, dan dia sudah mematahkan 68 tulang dalam waktu selama itu.

Seorang bayi, yang amat dinanti orang tuanya, lahir dengan penuh limpahan kasih sayang. Orang-orang akan berebut untuk menggendongnya, mencium pipi mungilnya dan menghirup aroma khas yang dimilikinya. Lalu kedua orang tuanya akan sibuk memilihkan nama, sambil membayangkan kelak kegiatan yang akan mereka lakukan bersama sang anak. Berlari, bermain sepak bola, bermain layangan, atau berenang?

Tapi tidak demikian yang dirasakan Charlotte ketika ia melahirkan bayinya. Bukan kelegaan yang bercokol dalam hatinya melainkan ketakutan serta kekhawatiran akan keadaan anak perempuannya yang dulu kehadirannya amat didambakan. Anak itu terlahir dengan kelainan pada tulangnya, ia menderita Osteogenesis Imperfecta, kondisi ketika tulang-tulang di tubuhnya amat rapuh karena ia kekurangan kolagen. Kelainan ini membuat si anak kelak akan mudah mematahkan tulangnya, baik karena terpleset, ataupun terjatuh. Bahkan saat bersin sekalipun. Anak itu kemudian diberi nama Willow. Saat ia lahir, ada tujuh fraktur yang dalam masa penyembuhan dan 4 fraktur baru akibat proses persalinan. 

Pada dasarnya, yang anda lihat adalah hidup yang diisi oleh rasa sakit, sekalipun waktunya pendek.

Sautu hari, Willow dan keluarganya berlibur ke Disneyland. Tetapi sebuah kecelakaan terjadi, Willow terpleset dan tulangnya patah. Berada di luar kota membuat Sean dan Charlotte tidak bisa meminta pertolongan dokter langganan mereka, dan rumah sakit tempat Willow dirawat mencurigai kalau Willow adalah korban kekerasan oleh orang tua. Meski kemudian kesalahpahaman ini dapat diatasi,  tetapi Sean terlanjur marah dan sakit hati. Ia menghubungi pengacara untuk menuntut orang-orang yang telah menuduh mereka melakukan penganiayaan anak.


Di kantor pengacara dijelaskan bahwa mereka tidak dapat menuntut kasus tersebut. Tetapi sang pengacara malah memberikan ide lain kepada keluarga Willow, bahwa ada kemungkinan mereka bisa mengajukan tuntutan malpraktik kelahiran. Sebab seharusnya tanda-tanda janin pembawa OI dapat diidentifikasi lebih dini oleh dokter kandungan yang memeriksa. Kemungkinan jika deteksi dini dilakukan, maka sang ibu dapat diberikan pilihan apakah mempertahankan janin tersebut atau menggugurkannya.

Sean tentu saja menolak melakukan gugatan tersebut, ia dan Charlotte amat menginginkan kehamilan tersebut. Tetapi Charlotte memiliki pandangan lain. Seluruh harta mereka tercurah untuk memenuhi kebutuhan Willow. Biaya rumah sakit, operasi, obat, perawatan, serta perlengkapan untuk mendukung ketidakmampuan fisiknya di rumah membuat keluarga mereka bangkrut. Jika tuntutan ini berhasil, mereka akan memiliki jaminan untuk memberikan Willow kehidupan yang layak dan nyaman. Belum lagi mereka juga memiliki Amelia, si sulung yang sering terabaikan karena Willow.

Tuntutan ini makin runyam karena dokter yang memeriksa kehamilan Charlotte adalah Piper, sahabatnya sendiri. Sanggupkah Charlotte melawan hatinya sendiri untuk menggugat sahabatnya yang bahkan telah membantu dalam proses kehamilannya? Dan yang lebih penting secara moral, apakah layak, seorang ibu menggugat dokternya karena ia tidka diberi kesempatan untuk mengugurkan kandungannya sendiri?

Saya benar-benar menyukai buku ini, bagaimana penulis bisa membuat pembacanya terikat secara emosional dengan tokoh-tokoh dalam cerita. Membuat kita seakan enggan beranjak dan berhenti sebab terlalu penasaran dengan akhir yang dialami keluarga ini. 

Saya tak punya tokoh favorit, Karena kesemua tokoh utama memiliki keunikannya masing-masing. Mereka secara individual terasa menonjol, kadang membuat saya iba, tak jarang juga membuat saya kesal. Tetapi saya akan  menceritakan sosok Charlotte sekilas di buku ini. Charlotte merupakan wanita yang mandiri, terutama ketika ia sedang berada di dekat Willow, ia yang terkadang terlihat rapuh dan membutuhkan perlindungan langsung berubah menjadi sosok wanita yang percaya diri dan begitu melindungi anaknya. Seluruh kehidupannya dipusatkan kepada Willow. Seakan dengan sepenuh tenaga dan kemampuannya, ia sanggup memberi rasa aman pada Willow, meski itu sulit. Sosok Charlotte di buku ini membuat saya seakan berkaca, mungkin memang itu tujuan para Ibu di dunia. Memberikan dan memastikan anak-anaknya melangkah dengan aman ke depan, meskipun sebenarnya tak ada jaminan yang dapat meyakinkan kami.

Buku ini amat kompleks, dan saya beruntung telah membacanya meski belum memiliki waktu untuk mengupasnya lebih jauh. 

Sedikit tentang Osteogenesis Imperfecta (sumber)

Osteogenesis imperfecta (OI) is a genetic disorder characterized by bones that break easily, often from little or no apparent cause. A classification system of different types of OI is commonly used to help describe how severely a person with OI is affected. For example, a person may have just a few or as many as several hundred fractures in a lifetime.
Prevalence
While the number of people affected with OI in the United States is unknown, the best estimate suggests a minimum of 20,000 and possibly as many as 50,000.
Diagnosis
OI is caused by genetic defects that affect the body’s ability to make strong bones. In dominant (classical) OI, a person has too little type I collagen or a poor quality of type I collagen due to a mutation in one of the type I collagen genes. Collagen is the major protein of the body’s connective tissue. It is part of the framework that bones are formed around. In recessive OI, mutations in other genes interfere with collagen production. The result in all cases is fragile bones that break easily.
It is often, though not always, possible to diagnose OI based solely on clinical features. Clinical geneticists can also perform biochemical (collagen) or molecular (DNA) tests that can help confirm a diagnosis of OI in some situations. These tests generally require several weeks before results are known. Both the collagen biopsy test and DNA test are thought to detect almost 90% of all type I collagen mutations.



Be First to Post Comment !
Poskan Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,