Februari 24, 2016

Burial Rites – Ritus-Ritus Pemakaman




Judul Buku : Burial Rites – Ritus-Ritus Pemakaman
Penulis : Hannah Kent
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama : November 2014
Tebal : 416 halaman, paperback
ISBN : 9786020309064


“Kau masih beruntung aku tidak melaporkan insiden ini.”
“Aku bukan pencuri,” kataku.
“Bukan, kau pembunuh.”


Agnes Magnusdottir divonis bersalah atas pembunuhan Natan Ketilsson dan Petur Jonsson.  Menjelang hukuman matinya, Agnes dipindahkan ke Kornsà, ke rumah keluarga Jón yang seorang petugas wilayah dan istrinya Margrét. Keluarga itu pada awalnya menolak penempatan Agnes dengan keras. Bagaimana bisa mereka tinggal dengan seorang pembunuh? Apalagi ada dua anak gadis dan para pembantu, siapa yang akan menjamin keselamatan mereka?

Di awal kedatangan Agnes, suasana rumah terasa tegang. Margret sebagai nyonya rumah menyuruh Agnes untuk membantu apapun yang bisa dilakukan Agnes sebagai imbalan telah menampungnya di sana. Ternyata Agnes adalah seorang yang patuh dan pendiam. Ia amat jarang berbicara dan jika diajak berbicara, biasanya tak banyak yang terucap dari bibirnya. Satu satunya orang yang bisa membuat Agnes bercerita banyak adalah Toti, pendeta yang ditugaskan mendampingi Agnes dalam mempersiapkan hari kematiannya.

Tetapi meskipun Agnes pendiam, ia merupakan wanita yang terampil. Ia bisa melakukan banyak hal, mulai dari menyabit rumput hingga membuat sosis. Karena itu Margret benar benar terbantu oleh kehadiran Agnes apalagi kesehatan Margret memang sedang tidak bagus, batuknya parah dan berdarah, terlebih kedua anak Margret, Lauga dan Steina, belum sepatuh dan secekatan Agnes. 

Hari-hari Agnes menunggu panggilan algojo selain diisi dengan melakukan pekerjaan rumah tangga, juga diisi dengan kenangan masa lalu yang ia ceritakan kepada Pendetanya, Toti. Untuk setiap terdakwa yang akan dieksekusi, memang disediakan seorang Pendeta agar membawa mereka ke jalan Tuhan. Tetapi alih-alih mencekoki Agnes dengan ayat-ayat, Toti menjadi seorang pendengar yang baik bagi Agnes. Dari cerita-cerita wanita itu, Toti serta keluarga Jon mengetahui bahwa masa lalu Agnes amat suram, menyesakkan serta menyedihkan. Mereka juga kelak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada malam kematian Natan dan Petur…


The Grave (source)

Sejak awal, saya sudah terpikat dengan suasana suram serta kehampaan yang pekat dalam ceritanya. Betapa pandainya penulis mengisahkan seorang Agnes, pembaca dibuat penasaran, takut sekaligus kasihan dengan apa yang telah dialami Agnes. Terlebih karena Agnes dan tokoh-tokoh dalam cerita ini betul nyata ada, bukan fiksi, sehingga membayangkan seseorang benar-benar melalui kehidupan yang dialami Agnes, hati saya jadi benar-benar tersentuh. Well, tertohok sebenarnya. 

Sosok Agnes yang cerdas tetapi tidak supel dalam bergaul, membuatnya dijauhi oleh orang-orang. Kehidupannya yang berpindah-pindah, membuat orang lain menyangka ia wanita nakal, padahal mereka hanya melihat apa yang nampak di luarnya. Bahwa manusia cenderung melihat sisi luar seseorang, alih-alih mencoba mengenal perangainya lebih dalam.


Selain Agnes, Margret adalah tokoh yang saya suka di dalam cerita ini. Margret bukanlah seorang wanita yangs enang bergosip atau membeberkan keburukan orang lain. Meski tentu saja dia khawatir akan keselamatan keluarganya atas kedatangan Agnes ke rumah mereka, pada akhirnya Margret bersikap adil terhadap Agnes, bahkan menepis rumor-rumor buruk yang sering diceritakan tetangga-tetangganya tentang Agnes.

Selain tokoh, pilihan sudut pandnag pencerita juga ditampilkan dengan apik. Selain menggunakan PoV 1 dari Agnes, penulis juga menggunakan PoV 3 sebagai seorang serba tahu, dan ternyata saya tidak kesulitan mengikuti jalan ceritanya. Bahasa yang digunakan dalam cerita ini begitu deskriptif sekaligus indah. Di awal cerita, kita akan bertemu dengan Agnes yang dipenjara sampai kumal dan kotor, begitu jelasnya gambaran itu sampai saya agak mual saat membacanya, tanpa perlu susah –susah membayangkannya, sosok Agnes dengan mudahnya hadir dalam bayangan saya.

Penanda tempat eksekusi Agnes dan Fridirik (source)

Novel ini ditulis berdasar kisah nyata yaitu hukuman penggal terakhir yang dilakukan di Islandia pada tahun 1829 dengan terdakwa Agnes Magnusdottir. Hannah Kent mendengar kisah Agnes pertama kali ketika ia tinggal di Islandia dan dua hal membuatnya bertekad menyelesaikan satu novel yang mengungkap sisi manusiawi serta kehidupan Agnes. Alasan pertama adalah hilang dan diabaikannya sejarah tentang kehidupan Agnes sebelum terjadinya peristiwa pembunuhan. Alasan kedua adalah penggambaran Agnes yang selama ini dikisahkan sebagai wanita jahat dan manipulative, padahal saat Hannah melakukan riset, semakin dalam ia mengetahui karakter Agnes lainnya yang berbeda. Buku ini ditulis sebagai pengingat bahwa ada sisi lain yang bisa diceritakan tentang  seorang pembunuh yang tak pernah kita ketahui sebelumnya.



Be First to Post Comment !
Poskan Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,