September 28, 2016

The Lady in Red




Judul Buku : The Lady in Red
Penulis : Arleen A
Editor : Dini Novita Sari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama : 2016
Tebal : 360 halaman, paperback
ISBN : 978-602-03-2712-9

Kau tidak akan bisa meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kau sendiri tidak yakini

Rhonda lahir dan dibesarkan dalam keluarga Wotton yang terkenal dengan bisnis peternakannya yang sukses. Peternakan itu dibangun sejak sebelum masa nenek buyutnya, Nana Betty. Meski dilahirkan di lingkungan petani, Rhonda lebih memilih seni dalam karirnya sehingga Wotton Farm diurus oleh Henry, kakak lelakinya.

Henry tak mengurus segalanya sendiri, ia juga dibantu oleh Greg yang keluarganya telah puluhan tahun mengabdi kepada Wotton Farm. Umur Greg tidak berbeda jauh dengan Henry maupun Rhonda, itu sebabnya ia amat akrab dengan mereka.

Meskipun demikian, Greg tetap menaruh rasa hormat dan sungkan yang tinggi terhadap keduanya, sehingga ia lebih sering menganggap dirinya sebagai pelayan daripada teman.
Seperti kata pepatah yang menyatakan cinta ada karena terbiasa, Greg diam diam menaruh hati pada Rhonda. Sayangnya, Greg tidak berani mengungkapkan perasaannya terhadap Rhonda. Ia takut Rhonda tak menyukainya lalu malah membencinya. Berani beraninya seorang pelayan mencintai majikannya?


Dan begitulah cerita mereka bergulir. Hari demi hari sampai Rhonda berkali kali menjalin cinta dengan pria lain, Greg masih diam saja menunggu. Apakah Rhonda menyukai Greg? Apakah akhir cerita mereka kelak bahagia?

Cerita ini berlatar di Fort Brag, Amerika Serikat dari tahun 1920an sampai 2020. Alur cerita yang cukup panjang tetapi tenang saja, tidak terlalu kompleks. Tidak banyak tokoh yang bermain dalam novel ini, dan setiap karakternya dibangun dengan ciri khas masing-masing. Hanya saja, pembagian porsi perkenalan sampai konflik terlalu panjang, bagi saya. Sedangkan penyelesaian klimaksnya tidak dieksekusi dengan baik, tiba tiba selesai begitu saja. Padahal sebenarnya saya mengharapkan konflik yang lebih kacau dan menegangkan. Mungkin karena cerita dalam buku ini lebih fokus terhadap kisah romansanya, makanya porsi romannya lebih banyak.

Membaca blurb di belakang buku, saya cukup tertarik karena ada tokoh yang memiliki masalah dengan kepercayaan diri disebutkan di sana. Saya selalu penasaran akan sebuah cerita dengan perubahan karakter. Dari pemalu menjadi berani, dari terpuruk menjadi bangkit ataupun sebaliknya. Saya berharap menemukan tokoh seperti itu di dalam buku ini.

Sebenarnya tokoh Rhonda yang diceritakan tidak memiliki kepercayaan diri sempat disinggung dalam cerita. Tetapi rupanya itu hanya menjadi polesan dan angin lalu saja. Oke Rhonda bertubuh gendut, udah gitu aja. Jika pada blurb dituliskan hal tersebut, yang ada di bayangan saya adalah bagaimana Rhonda mengatasi krisis kepribadiannya dan berkembang menjadi gadis yang lebih tahan banting terutama pada penampilannya.

Sama seperti Rhonda, Greg juga disebutkan tidak memiliki rasa kepercayaan diri yang besar. Bedanya, tokoh Greg dikembangkan dengan cukup baik sampai akhir. Kita dapat melihat hal hal yang mendorong Greg untuk keluar dari zona nyamannya dan memilih mengikuti kata hatinya. Seakan membawa pesan kepada pembaca bahwa tak apa jika kau ragu di awal, tapi teruslah berusaha semampumu.

Tapi buku ini tak hanya menceritakan tentang kisah cinta Greg dan Rhonda melainkan juga mengisahkan tentang dendam masa lalu. Konflik ini yang kelak menghubungkan antara masa lalu Nana Bettie dengan Wotton Farm sekarang. Sebuah novel yang cukup menarik untuk dibaca, terutama bagi pencinta novel roman.

Be First to Post Comment !
Posting Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,