Juni 02, 2021

Jalan Panjang untuk Pulang

 



Judul Buku : Jalan Panjang untuk Pulang

Penulis : Agustinus Wibowo

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan pertama : 2020

Tebal : 464 halaman, paperback + e-book

ISBN : 978-602-06-4757-9


"Bukan, bukan begitu," dia berkata penuh kepastian. "Itu namanya bukan 'pulang ke tanah air'. Itu namanya cuma 'pergi ke Cina'. Tanah air kita di sini, Indonesia."



Rasanya menyenangkan bisa kembali bertualang bersama Agustinus ke negeri negeri jauh. Negeri yang mustahil saya kunjungi namun sering sekali saya dengar namanya di berita ataupun di cerita. 


Kali pertama, kita diajak menelusuri Cina lalu singgah ke Mongol bertemu dengan para pemburu elang. Selepas melihat elang yang dengan gagahnya memburu mangsa, kita diajak menyeberang jauh ke Papua Nugini. Tempat di mana perbatasan Indonesia dan Papua Nugini berupa hutan belantara dengan orang orang yang hidup di dalamnya.


Tak hanya bercerita tentang perjalanan, kali ini Agustinus juga mengajak kita menapak sejarah beberapa agama dan kepercayaan di dunia. Seperti mengetahui kehidupan menjadi Shaman di Mongolia, Yahudi di Bukhara, juga penganut Agama Tua di pedalaman Toraja.


Ada empat bab dalam buku ini, masing masing berisi sub bab berupa cerita cerita perjalanannya. Sebenarnya jika mau, pembaca bisa membaca sub babnya secara acak, tetapi untuk babnya saya sarankan sih baca berurutan. Karena perjalanan ini ujungnya berakhir di pulang. Tidak hanya bercerita tentang perjalanan ke berbagai negara, buku ini juga menceritakan bagaimana Agustinus berdamai dengan dirinya sendiri terutama setelah kepergian kedua orang tuanya. 


Pandainya Agustinus adalah bagaimana ia menceritakan perjalanan itu tidak hanya lewat gambaran bentang alamnya, tetapi melalui interaksinya dengan orang orang di sana. Seperti setelah membaca buku ini, jika saya membaca kata Kashmir, bukan wilayah hijau yang indah yang terbayang tetapi orang orang yang sedih dan ketakutan akibat lockdown berminggu minggu karena bersitegang dengan India. Atau jika saya menemukan kata Mongol, yang ada di bayangan saya bukan langit biru, putih salju serta tenda tenda segitiga, tetapi saya mengingat Shaman mereka dan betapa cintanya mereka dengan Vodka.


Ada banyak petuah petuah kehidupan yang dibagikan di buku ini, baik dari Agustinus sendiri maupun dari orang orang yang ia temui. Yang kurang dari buku ini mungkin fotonya yang kurang banyak dan tidak berwarna (Tapi kalau kalian membacanya di Gramedia Digital, fotonya berwarna!). Juga karena berupa perjalanan, saya butuh waktu lama menamatkan ceritanya karena seringkali saya perlu google dulu biar punya gambaran wilayahnya juga orang orangnya.


Jadi kapan kita akan berkelana lagi?

Be First to Post Comment !
Posting Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,