Juli 13, 2012

Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah



Judul Buku : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 512 halaman, paperback
Cetakan Ketiga : April 2012
ISBN : 978-979-22-7913-9


Kota Pontianak adalah salah satu kota yang Istimewa di Indonesia, selain karena terdapat tugu katulistiwa, nama kota ini pun bisa dibilang unik. Kata Pontianak sejatinya adalah nama sejenis hantu yang terkenal di daerah tersebut. Alkisah karena kemenangan Sultan Alkadrie melawan hantu Ponti ini, maka peristiwa itu dikenang dengan cara memberikan nama Pontianak sebagai nama kota ini. Sayangnya tak banyak buku-buku yang menuliskan cerita berlatar kota Pontianak. Maka ketika saya tahu bahwa kisah di buku Tere Liye kali ini diceritakan dengan mengambil latar kota tersebut, maka semakin besar niat saya membaca buku ini.

Tersebutlah seorang Anak laki-laki bernama Borno. Ketika ia berumur dua belas tahun, Bapaknya yang seorang nelayan terjatuh ke laut dan tersengat ubur-ubur. Divonis meninggal secara klinis, Akhirnya jantung milik Sang Bapak didonorkan ke seorang pasien gagal jantung yang berminggu-minggu menantikan donor. Borno kecil meraung marah, meratap dan kecewa, Bapak belum benar-benar meninggal. Mengapa dadanya harus dibelah?

Sepuluh tahun kemudian, berceritalah Sang Penulis tentang kehidupan Borno muda. Semenjak lulus dari SMA, telah banyak pekerjaan yang ia lamar, namun tak satu juga yang benar-benar mantap ia jalani. Enam bulan bekerja di Pabrik karet, ia dan banyak karyawan lainnya dipecat karena perusahaan saat itu merugi. Berikutnya ia menjadi pemeriksa karcis di dermaga feri, sayangnya pekerjaan ini membuat Borno dimusuhi oleh Bang Togar dan sebagian besar pengemudi sepit (semacam perahu sebagai transportasi air di Kalimantan) karena Feri merupakan saingan terbesar dari sepit. Kemudian ia menjadi petugas SPBU apung sementara, membantu menjaga warung, mencari sotong, memperbaiki genteng, toilet mampet, dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya.


Orang-orang terdekatnya mulai prihatin, Cik Tulani pemilik warung makan, Koh Acong pedagang Kelontong, sampai Ibunya sendiri semua menyarankan Borno untuk menjadi pengemudi sepit. Meski Bapaknya pernah melarang Borno menjadi pengemudi sepit, tetapi dalam hati Borno berjanji

“Aku akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras-meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit” –Hal. 54

Pertama-tama tentunya Borno harus belajar mengemudikan sepit, beruntunglah ia karena ada Pak Tua, seorang pengemudi sepit yang berbaik hati mau mengajarkan Borno. Sayangnya tidak semudah itu, untuk menjadi anggota pengemudi sepit di Sungai Kapuas, Borno harus melalui masa perploncoan dari Bang Togar, ketua PPSKT (Persatuan Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta), terlebih dulu. Membersihkan jamban umum, mengecat sepit Bang Togar bahkan ketika Borno diberi kepercayaan Pak Tua untuk membawa penumpang pertama kali, Bang Togar malah melarang Pak Tua ikut dalam perjalanan tersebut. Meski ketar-ketir, toh akhirnya Borno sampai dengan selamat membawa seluruh penumpang di sepit yang ia kendarai.

embun-rayya.blogspot.com

Tanpa ia sadari, saat itu semesta sedang setuju serempak bersama memperkenalkan Borno pada gadis yang kelak membuatnya jatuh cinta. Kenangan pertama yang Borno ingat dari gadis itu adalah gadis itu memiliki wajah yang sendu menawan. Mengapa Borno tertarik dengan gadis ini? Tak lain dan tak bukan karena Si Gadis telah menjatuhkan sebuah amplop kecil berwarna merah di sepit yang tadi dikemudikan Borno. Maka dari sinilah awal perkenalan Borno dengan perasaan yang konon bernama ‘cinta’ itu dimulai.

Borno terus menyimpan amplop merah itu sambil mencari gadis berwajah sendu yang memilikinya setiap pagi di pangkalan sepit. Sampai suatu hari ia menemukan gadis itu sedang membagi-bagikan angpau persis seperti amplop merah yang ia temukan kemarin. Rupanya Si sendu menawan sudah mengetahui nama Borno, bahkan kemudian Borno menjadi akrab dengan gadis itu.

Setiap pagi Borno berangkat tepat waktu agar bisa mengantarkan si sendu menawan menyeberang. Apapun caranya, ia akan memilih urutan sepit nomor tiga belas karena berdasarkan pengalamannya, sepit di urutan itulah yang akan membawa Si sendu menawan menyeberang.

Seperti yang seterusnya bisa diperkirakan pembaca, Borno dan Si Sendu Menawan akhirnya berkenalan. Gadis itu bernama Mei, ia sedang kuliah lapangan mengajar di sebuah SD di Pontianak. Sayangnya Mei harus segera kembali ke Surabaya, kembali ke rutinitas kuliahnya dan Borno menghabiskan enam bulan dalam kerinduan bertemu lagi dengan Mei.

Suatu hari setelah enam bulan menanti, kabar baik mengunjungi Borno. Pak Tua memutuskan untuk melakukan terapi pengobatan penyakitnya di Surabaya, diajaknyalah Si Borno ikut serta. Bahagia bukan main meraja, tapi apalah daya, Borno tak tahu di mana alamat Mei di kota besar itu. Namun kali ini semesta bekerja sama lagi untuk membuat Borno sedikit lebih dekat dengan Mei. Mereka bertemu di klinik tempat Pak Tua melakukan terapi. Berkali-kali bertemu dan menyimpan rasa suka, ternyata tak membuat hubungan keduanya berjalan mulus seperti kisah cinta biasa. Borno harus menyimpan beribu tanya ketika Bapak Mei berulangkali menyuruh Borno menjauhi anaknya. Belum lagi dengan hadirnya seorang gadis cantik lain di kehidupan Borno, dengan cara yang tidak diduga.

Bagaimana kisah cinta Borno diakhiri di cerita ini? Akankah ‘hidup bahagia selama-lamanya’ menjadi takdir Si Bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas itu kelak?

Sebuah buku yang sarat akan cinta. Itu kesan saya ketika menutup lembar terakhirnya. Bagaimana tidak, selain kisah cinta Borno dengan Mei yang diam-diam menggelitik, pembaca juga disuguhkan sedikit kisah cinta Bang Togar dengan istrinya, ditambah kalimat-kalimat cinta Pak Tua yang ‘jleebb’ ketika dibaca. Berikut salah satu contohnya.

“Boleh jadi ketika orang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Tapi kau masih memilik separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang. Satu-satunya yang paling berharga.” –Pak Tua. Hal. 479

Sebenarnya saya sudah sering membaca karya-karya Tere-Liye, tetapi selama ini saya lebih sering menemukan ia berkisah tentang cinta dalam keluarga. Bukan hal macam percintaan Borno dan Mei kali ini, dan yang membahagiakan saya ternyata ciri khas cara penyampaian cerita Tere Liye juga tak hilang. Ia masih menyelipkan beberapa kalimat-kalimat yang memotivasi dan mencerahkan, meski lebih sering keluar dari kisah Pak Tua.

Sosok Pak Tua inilah yang membuat saya sedikit kurang puas dengan buku ini. Pak Tua adalah lelaki misterius yang seakan-akan ditokohkan ‘super’. Ia punya banyak sekali kata-kata menarik tentang cinta yang membuat Borno dan Andi, sahabatnya, terkagum-kagum dengan petuah Pak Tua. Terlebih bahwa ternyata Pak Tua ini memiliki uang yang banyak tersimpan, cukup untuk membuatnya bebas menikmati hari tua. Pak Tua juga sosok yang pintar memecah kebekuan suasana, membuat yang tadinya kaku menjadi berbaur dengan gembira. Mungkin banyak pembaca yang menyukai sosok Pak Tua, namun tidak demikian dengan saya karena saya merasa Bang Togar adalah sosok yang lebih ‘manusia’.

Bang Togar ini sifatnya keras dan galaknya minta ampun. Tapi meski demikian, dia selalu menghormati dan menghargai para anggota perkumpulan PPSKT-nya. Bahkan ia juga menanamkan (meski kadang dengan ancaman) agar anak buahnya yang sedang bertengkar mau berdamai lagi. Bang Togar juga tipe lelaki yang menghargai dan benar-benar menghormati sejarah. Masa lalu baginya suatu pelajaran yang harus diambil hikmahnya, meski terkadang ia mencoba membalasnya dengan kejam. Bang Togar sebenarnya memiliki hati yang baik dan murah hati, terbukti dari kisahnya setelah ’tragedi dengan Kak Unai, istrinya’ yang diceritakan di buku ini. Buat saya Bang Togar memang hanya manusia biasa yang kadang salah dan alpa, tapi ia juga punya kebaikan yang tersimpan di hatinya.
Untuk ukuran novel dewasa, saya suka dengan penceritaan penulis tentang filosofi cinta yang rumit di buku ini. Seperti lagu yang konon katanya kalau jatuh cinta bisa membuat tidur tak tenang, makan tak lahap, semuanya habis untuk memikirkan si dia. Tapi seperti diingatkan, kita dituntun dan dijelaskan bahwa bukan cinta seperti itu yang sehat. Cinta yang sehat itu adalah cinta yang pantang menyerah, cinta yang selalu berdoa, bahkan selalu optimis berharap kebaikan selalu terjadi atas dirinya. Seperti cerita Borno dengan Mei, si Gadis sendu menawan.

Ketidakpuasan saya pada 37 bab cerita di dalamnya terletak dari endingnya yang terlalu biasa, bahkan saya merasa dipaksakan untuk diakhiri dengan cara seperti itu. Bukan berarti saya mengharapkan ceritanya berkelanjutan, tetapi konflik yang terbangun dan tereksekusi dengan baik dari awal sampai klimaks cerita rasanya terlalu berbobot untuk ending buku ini. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah memang penulis sengaja mengakhiri cerita ini dengan begitu sederhana dengan maksud bahwa kehidupan memang terkadang berakhir dengan kejadian biasa-biasa saja. Atau memang penulis kehabisan ide untuk mengakhiri cerita ini dengan kejutan?

Tapi toh saya suka sekali dengan kisah buku ini, cara penulis mengungkapkan detail tempat, detail suasana, detail perasaan tidak membuat pembaca terganggu menikmatinya. Peralihan scene yang smooth meski kembali ke puluhan atau bertahun-tahun lalu mampu diceritakan dengan apik. Cover dan layoutnya juga memuaskan pembaca, ah.. saya rasa memang buku ini memang layak dibaca bagi mereka yang pernah atau sedang atau sedang bersiap menghadapi datangnya cinta.

Seperti kata Pak Tua : 

”Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.”

Selamat merasakan cinta dengan buku ini. :)





Be First to Post Comment !
Poskan Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,