Desember 03, 2016

Wander Woman




Judul buku : Wander Woman
Penulis : Nina Addison, Fina thorpe-Willet, Silvia Iskandar, Irene Dyah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama : 2016
Tebal : 360 halaman, paperback
ISBN : 978-602-03-3375-5

Hari ini kami doakan dia sedang bersantai menikmati me-time dengan tenang. Doa yang dipanjatkan semu ibu-ibu di dunia untuk teman sejawat mereka.

Setelah mengetahui sinopsis buku ini, saya langsung masukin ke dalam wishlist. Mungkin karena tema ceritanya seputar ibu-ibu yang merasakan hidup di luar negeri. Yah, sebagai sesama ibu-ibu, saya tentunya penasaran, kayak apa sih hidup di luar negeri sambil mboyong keluarga?

Dalam buku ini ada empat tokoh utama, Arumi, Cilla, Sabai dan Sofia. Masing-masing akan berbagi empat cerita pendek tentang kejadian-kejadian menarik yang pernah mereka alami selama menjadi emak-emak ekspatriat. Keempat tokoh ini bersahabat, sehingga sesekali akan kita temukan mereka muncul di cerita milik tokoh utama yang lain.

Adalah Cilla sebagai pembuka cerita, kisahnya berlatar di Amerika Serikat serta Skotlandia. Salah satu kisahnya yang membuat saya meringis membayangkannya adalah ketika rumahnya kemalingan di Aberdeen. Saat itu di pagi hari, ketika sang suami telah berangkat kerja dan kedua anak mereka masih terlelap di kamar. Pagi yang sepi, dingin, dan lokasi rumah mereka berada di paling pinggir berbatasan dengan padang luas. Terus, kemalingan. Mana Cilla sempat memergoki malingnya, pula. Udah gitu, pagi kemalingan, eh malamnya si suami masih harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Di cerita ini menurut saya Cilla benar-benar memberitahu saya sebagai pembaca, bahwa setiap ibu akan berusaha menjadi kuat seberapapun besar hantaman yang menerpa. Tapi toh pada akhirnya, kami hanya manusia biasa, rapuh dan tak jauh-jauh dari rasa trauma.



Sabai yang berputri tiga akan menjadi tokoh utama kedua dalam buku ini. Ia menceritakan pengalaman-pengalamannya selama tinggal di Inggris Raya dan Korea. Ceritanya yang paling seru buat saya adalah Berburu Burberry di Hackney. Yup, yang ada di pikiran saya tuh para ekspatriat gitu pasti koleksi bajunya bagus-bagus, mahal-mahal dan bermerek. Secara yaa, kan tinggal di luar negeri gitu, akses barang mahal gitu lebih gampang daripada kita-kita yang di Indonesia. Dan siapa tahu dengan beli di negara asalnya, bisa jadi dapat harga lebih murah. Iya, saya mah cetek gitu mikirnya. Makanya waktu baca cerita Sabai ini, saya jadi malu sendiri XD 

Di cerita ini, Sabai bercerita saat ia mencoba datang ke galeri Burberry yang menjual dengan harga  diskon. Ladies vs diskon jelaslah ya berbahaya XD apalagi meski Sabai tinggal di UK, ia ngga pernah beli barang mahal. Uang yang ia terima dari gaji suaminya harus diputar putar dengan cermat agar bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka berlima. Tentu saja pilihan pakaian mereka pun tak dapat bermewah mewah ria. Maka godaan diskon itu membuat Sabai berangan angan indah. Tapi toh, namanya toko diskon di mana mana tetap saja sama. Banyak orang, rebutan barang, duh pokoknya ngga nyaman. Apalagi terjadi sebuah insiden di toko tersebut antara Sabai dan pengunjung lain yang nggak kenal malu. Ugh, bener bener pengalaman yang menginspirasi saya deh. Ngga akan pergi ke toko diskonan kalau bawa bocah XD

Sydney - Langit Kaca di atas Kota, cerita milik Sofia bagi saya lebih terasa sebagai sebuah curahan hati ibu ibu yang menghabiskan waktunya mengurus rumah tangga dan pernak perniknya. Sofia yang dulunya seorang wanita karier, memiliki penghasilan sendiri, pribadi mandiri, seakan kehilangan jati diri ketika menjadi seorang ibu rumah tangga. I feel her, btw. Nah di cerita ini Sofia mencoba mencari kerjaan part time, yang ternyata susah banget dicari. Sebagian besar pekerjaan part time adalah pekerjaan sukarela, tanpa dibayar. Terus gimana donk Sofia dan impiannya untuk bekerja lagi? Ya gitu deh.. X))

Di bagian terakhir ada Arumi dan keluarga kecilnya yang bercerita tentang pengalamannya di Jepang-Thailand-Indonesia. Nah, di bagian penutup ini ada satu cerita yang menyentuh tentang putranya Arumi. Dalam perpindahan, adaptasi adalah hal yang tidak mudah dilakukan apalagi bagi anak-anak. Mulai dari perbedaan budaya yang kelihatan sampai hal hal sederhana yang ngga kasat mata. Dalam cerita ini dikisahkan tentang adaptasi si anak yang cukup sulit di sekolah. Karena kurikulum pelajaran anak SD di Indonesia yang njomplang daripada kurikulum seperti tempatnya bersekolah dulu, membuat Arumi sebagai seorang ibu jadi ikut ikutan stress. 

Dari enam belas cerita pendek dalam buku ini, akan kita temukan fun fact di tiap akhir ceritanya. Beberapa kisah memang benar terjadi dan bisa jadi para emak emak penulis ini yang mengalaminya sendiri. Saya sih suka semuaa, alurnya yang cepat dan nggak singkat singkat amat ceritanya membuat saya merasa terkoneksi dengan apa yang mereka kisahkan. Udah gitu, saya juga jadi lebih paham bahwa menjadi istri ekspatriat bukanlah hal yang mudah. Lain ladang lain belalang, terutama. Ngga semua yang ada di luar negeri itu hidup mewah, melimpah kaya raya gitu deh. 

Oh ya, satu lagi yang saya dapatkan dari membaca buku ini, bahwa ibu ibu di manapun mereka berada, pada dasarnya ngga beda beda jauh deh. 


Saya sih berharap buku ini ada kelanjutannya. Barangkali kelak para suami yang bercerita? XD


Be First to Post Comment !
Poskan Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,