Juli 05, 2012

Layla Majnun ~ Pengantin Surga


Judul Buku : Pengantin Surga
Penulis : Nizam Ganjavi
Penerjemah : Ali Nur Zaman
Penyunting : Salahuddien Gz
Penerbit : Dolphin
Tebal : 256 halaman, paperback
ISBN : 978-979-17998-3-6


Kalau saya disuruh menyebutkan kisah cinta yang melegenda, maka saya akan menyebut Layla dan Majnun di antara beberapa kisah cinta lainnya. Padahal sebenarnya saya belum tahu kisah lengkap mereka seperti apa, nah rasa penasaran itu yang membawa saya begitu bersemangat saat membuka halaman awal buku ini. Siapa Layla? Siapa Majnun? Seperti apa kisah cintanya?

Alkisah di Arabia pada suatu masa hiduplah seorang anak lelaki bernama Qays, Ayahnya bernama Sayd Omri, seorang penguasa Badui atas Suku Bani Amir. Qays jatuh cinta kepada Layla, seorang gadis anggun berparas jelita. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, tetapi ternyata jalan percintaan mereka tidaklah semudah awalnya. Ketika banyak gosip tersiar, kabar burung beredar, orang tua Layla mengambil tindakan untuk mengurung anak mereka di dalam rumah.

Qays adalah seorang Pencinta, terpisah dari belahan hati adalah sebuah siksaan yang menyengsarakan perasaannya. Dengan apa ia bisa membawa rindu kepada Layla? Maka lewat angin ia berkisah, dalam bentuk jalinan kata yang memabukkan siapa saja yang mendengar denting indah yang keluar dari bibir Qays. Tapi kelamaan, Qays dianggap tidak waras lagi. Ia lebih sering dipanggil ‘Majnun’ yang berarti ‘orang tidak waras’, karena rasa cintanya yang sedemikian besar terhadap Layla. Orangtua Qays sudah mencoba melamar Layla, tetapi Ayah Layla terlalu angkuh untuk menikahkan anak gadisnya dengan Qays. Maka tetaplah Qays menjadi si Pujangga cinta berbekal rasa rindunya yang berkerak untuk Layla seorang.

A scene from Nizami's adaptation of the story
Jika Qays sedemikian bebas mengumbar rindu untuk kekasihnya, tetapi tidak demikian dengan Layla. Ia sebagai anak perempuan, sebagai wanita, memiliki keterbatasan dalam menampakkan kerinduan yang ia pikul terhadap Qays. Layla membisikkan rindunya terhadap angin, berharap Qays mendengarkan kepiluan yang juga mendera hati dan perasaannya.

Apakah dua kekasih ini bisa bersatu lagi?

Ah, membaca kisah Qays dan Layla di buku ini sejak awal membuat saya tersenyum-senyum pilu sambil kasihan membayangkan kegilaan Qays atas cintanya terhadap Layla.
Tetapi semakin lama membaca, saya perlahan menyadari bahwa kisah Layla Majnun bukanlah romantisme picisan antara dua orang, pertentangan orang tua, lalu kegilaan karena cinta.

Awalnya memang saya sempat jengkel bukan main terhadap pribadi Majnun yang nggak easy going (ceileh), kenapa nggak putusin aja itu Layla, lalu cari cewek lain? Kenapa harus menyiksa diri di pedalaman hutan, berteman dengan hewan, makan hanya rerumputan dan jauh dari hiruk pikuk keduniawian? Tapi ternyata hal-hal itulah yang membuat cerita ini berkaitan erat dengan ajaran sufi. Seperti kata sang editor buku ini di akhir cerita, yang saya sempatkan baca duluan karena tertarik dengan perenungan ini dan membawa saya melihat dalam sudut pandang berbeda para pencinta.

Hasht-Bihisht Amir Khusro Walters

Layla Majnun memang sering dianggap sebuah cerita yang mewakili ke-sufi-an seorang Hamba terhadap Tuhannya.Berikut kutipan yang saya ambil dari artikel tentang Laila Majnun Sufism
Kita adalah Majnun, untuk dapat masuk dan larut dalam Cinta Ilahi, kita harus menghilangkan ‘kesadaran’ atas diri kita sendiri dan menemukan Diri kita dalam Sang Kekasih.
Sufisme pada dasarnya adalah Jalan Cinta, dan para pencari adalah pencinta yang mencari Sang Kekasih Abadi. Ketika pencinta dan Sang Kekasih menyatukan semuanya, yang tersisa adalah Cinta. (Amat-un-Nur. 15th Sept. 2008.)

Seperti yang disarankan oleh seorang sahabat, kenikmatan membaca buku ini terletak dari pilihan kata – katanya. Cantik, puitis-melankolis-abstrak kalau saya simpulkan dalam tiga kata. Sedangkan kisah Majnunnya? Perlu dilihat dari kacamata cinta yang tak biasa, kesengsaraan yang kita lihat atas dirinya ternyata adalah kekayaan yang ia rasa dan ia miliki. Dengan membunuh ‘kerakusan’ dalam dirinya, ia merasa menemukan cinta yang sebenarnya, cinta yang penuh, yang utuh dan suci.

Pantaslah kalau cerita ini sangat populer, telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, telah difilmkan dan diilustrasikan berkali-kali..

Saya setuju, seperti yang dikatakan Damar Shashangka, penulis novel Sabda Palon. “ Kitab agung yang diterjemah dan disunting dengan sangat indah ini sungguh mampu menembus hakikat cinta para sufi.”


Be First to Post Comment !
Poskan Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,