September 29, 2015

By The Time You Read This, I’ll be Dead





Judul Buku : By The Time You Read This, I’ll be Dead
Penulis : Julie Anne Peters
Penerjemah : Hedwigis C Hapsari
Penerbit : Noura Books
Cetakan pertama : April 2015
Tebal : 322 halaman, paperback
ISBN : 978-602-0989-13-6


Dua puluh tiga hari? Itu terlalu lama. Aku siap sekarang.


Saya rasa sebagian besar orang pernah dibully, entah mereka sadar atau tidak sadar. Bagi saya, bullying adalah istilah yang baru saya ketahui berkat membaca. Sebelumnya saya hanya tahu istilahnya sebagai ejekan, hinaan dan semacamnya terhadap orang lain yang "berbeda". Sialnya, selain menjadi korban, saya lalu sadar kalau dulu juga pernah menjadi salah satu orang yang melakukan bullying terhadap orang lain. Meski saat itu saya pikir hanya "bercanda" seperti anak anak umumnya. Yah, anak anak bisa menjadi sangat kejam, kau tahu. Melalui post ini, saya pribadi mohon maaf jika kalian pernah menjadi korban pem-bully-an saya :(

Daelyn merupakan korban yang terpuruk dalam penghinaan yang dilakukan teman temannya. Percobaan bunuh dirinya telah berkali-kali gagal, mulai dari mengiris nadi sampai menenggak cairan pemutih, percobaan itu hanya membuatnya dan orang tuanya menderita. Kali ini ia bertekad untuk tak akan gagal lagi. Terutama setelah ia menemukan sebuah situs internet yang memang ditujukan kepada mereka yang memiliki niat untuk bunuh diri, Menembus-cahaya(dot)com. Setelah mendaftarkan diri di situs itu, ia mulai menghitung mundur waktu kematiannya yaitu di 23 hari mendatang. Selama menghitung mundur itulah kita diajak Daelyn mengupas masa lalunya yang kelam dan suram, bahkan ia beranggapan ayah dan ibunya tidak pernah memahami keadaannya.

Kehidupan Daelyn makin diawasi oleh orang tuanya, sebagai anak satu-satunya, tentu saja keselamatan Daelyn semakin menjadi prioritas. Mereka mengantar dan menjemput Daelyn secara bergantian ke sekolah, mengatur jadwal pertemuan ke psikiater, dan berbagai cara lainnya yang bertujuan mencegah Daelyn untuk melakukan bunuh diri lagi.

Sementara waktu bergulir menuju hari "kebebasannya", Daelyn bertemu dengan orang lain di dalam rutinitas sekolahnya. Seorang anak laki laki yang nyentrik bernama Santana, yang kebetulan tinggal di dekat sekolah Daelyn. Terus bagaimana kisah Daelyn di hari-hari terakhirnya? Apakah Santana kelak menjadi orang pertama dan terakhir yang menjadi sahabat Daelyn?

Sebenarnya ceritanya cukup menarik, terutama karena tema yang diambil adalah tentang bullying. Sayangnya, penyelesaian cerita terlalu biasa-biasa saja, ngga ada twist yang saya harapkan ada di dalam cerita. Yang ada malah berbagai cara yang cukup detail untuk bunuh diri. Kehadiran Santana juga kurang berkesan buat saya, lalu kejadian-kejadian lainnya yang berhubungan dengan misi bunuh diri Daelyn juga terasa terlalu kebetulan.

Tapi bagaimanapun juga, saya berharap buku ini bisa membuka pengetahuan lebih luas para pembacanya tentang bullying serta karakter mereka yang merupakan korban bully. Pola pikir mereka, ketakutan ketakutan yang ada di benak mereka, rasa ketidak percayaan diri dan lain hal sebagainya yang bisa dengan mudah memicu emosi mereka menjadi semakin rendah diri sampai sampai memutuskan untuk bunuh diri seperti Daelyn.

Daelyn tidak memiliki rasa percaya diri, ia selalu merasa rendah diri dan tak pantas berada di lingkungan teman-temannya yang selalu mencemooh dia. Pandangan orang-orang yang mengiba sekaligus mencela makin emmbuat Daelyn semakin nekad untuk menghabisi nyawanya, dengan anggapan kalau ia nanti mati, ia akan bebas dan orang tuanya tak akan menanggung malu karena memiliki anak yang tak sempurna.
Sebagai seorang Ibu plus sebagai anak yang pernah mendapat bullying di sekolah, saat membaca kisah Daelyn ini saya merasa kasihan karena saya tahu seberapa besar ketakutan-ketakutan Daelyn terhadap teman-temannya di sekolah. Apalagi ketika ia bercerita kepada orang tuanya, eh malah orang tuanya menyepelekan laporan Daelyn tersebut. Di lain pihak, mungkin saja orang tua Daelyn merasa perlu menutup mata dan menganggap bahwa perlakuan anak-anak itu biasa saja. Paling hanya mengejek, menghina, dan sebagainya. Tapi kalau saja mereka mau lebih mengerti, bahwa ejekan sekecil apapun tentu akan membekas di hati anak-anak. Apalagi ketika Dealyn selalu direndahkan, disepelekan, yah, dukungan orang tualah yang seharusnya menjadi tameng pertama sang anak dalam menghadapi kasus bullying. Kalau bukan kepada orang tua, kepada siapa lagi mereka akan bercerita?

Saya ingat ketika dulu dibully dan saya tinggal jauh dari orang tua, nenek saya dengan berani dan tegas mendatangi rumah siswa yang membully saya. Sejak itu saya disebut pengadu, bakan perilaku mereka makin menggila. Saya disandung di jalan, air minum saya diganti dengan air seni, rambut saya dijambak, yah begitulah. Saya benar-benar nggak betah, tapi saat itu saya nggak bisa pindah sekolah. Mau nggak mau saya harus menerima kenyataan bahwa saya akan menghabiskan 3 tahun bersekolah di neraka itu. Dua tahun pertama saya mencoba bertahan, sampai tahun ketiga saya membuktikan bahwa saya bisa berprestasi. Saya mencoba menulikan telinga dan membutakan mata dari kelakuan mereka. Saya rela berjalan sejauh 6 kilo hanya agar tidak naik satu angkutan dengan mereka. Mungkin doa-doa dari orang-orang terdekat saya, mungkin juga karena mereka akhirnya bosan mengganggu saya. Setiap kali mereka mengolok olok, saya coba untuk abaikan, saya coba membangun benteng saya sendiri. Waktu istirahat saya habiskan di perpustakaan sendirian. Tiga tahun neraka itu akhirnya berhasil saya lewati, berdarah-darah. Apakah bullying itu selesai? Tentu saja tidak.. di tahun berikutnya, di sekolah berbeda, bullying itu muncul lagi meski tak separah di sekolah lama. Saya toh mulai cuek, saya mulai suka menyendiri, saya mulai suka emmasang tampang judes. Apapun asalkan saya tidak lagi diganggu dan tidak tampak terlihat menyolok. Apapun asal saya tidak dibully lagi.

Sekarang saya mencoba mendengarkan setiap keluhan anak saya sepulang sekolah. Saya bertanya bagaimana kelakuan teman-temannya terhadap dia di sekolah. Siapa yang suka mengolok-oloknya, dan tentu saja saya tipe ibu ibu yang “niteni”, kalau satu anak sudah terlihat berperilaku tidak menyenangkan atau membully anak saya, akan saya tegur anak itu saat di sekolah.  Kalau perlu akan saya datangi orang tuanya. Sebab bullying itu perlu ditangani dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekadar membesarkan hati si korban.
Description: https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif

2 komentar on "By The Time You Read This, I’ll be Dead"
  1. bullying udah makin sering terjadi. kadang ngeri juga liatnya :(

    BalasHapus

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,