Mei 02, 2014

Perempuan yang Melukis Wajah



Judul Buku : Perempuan yang Melukis Wajah
Penulis : Wisnu Nugroho, Ndoro Kakung, dll.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi :  e-book 176 halaman (beli di getscoop.com)

Terdiri dari sebelas cerita pendek tentang cinta. Bukan, bukan semuanya melulu tentang hujan atau air. Ya, saya sempat merasa tertipu dengan judul dan pilihan sampul depan buku ini. Tapi rasanya puas juga mencecap sebuah buku yang memang sebagian besar kisahnya beraroma hujan.

Cerita favorit saya adalah cerita pertama, Humsafar, karya Hanny Kusumawati. Humsafar artinya adalah kekasih, berkisah tentang Julia yang memiliki Taman Pemakaman yang elite dan sukses. Banyak orang telah menyiapkan lahan di tempat pemakaman miliknya itu, bahkan sampai dibangun sebuah rumah peristirahatan untuk orang-orang yang datang dari jauh untuk takziah di sana. Seringnya bangunan itu juga digunakan untuk tempat menyendiri yang ampuh karena jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk perkotaan.


Dalam suatu transit pesawat di Dubai, Julia bertemu dengan lelaki Pakistan bernama Shah. Berawal dari menawarkan tempat duduk, dengan segera Julia merasakan yang berbeda di hatinya terhadap lelaki itu. Sayangnya pertemuan mereka tak bisa lama karena Shah harus meneruskan perjalanannya ke Pakistan dan Julia harus kembali ke Jakarta.

Okelah jauhnya lokasi tidak menyurutkan cinta mereka berdua, tetapi sebuah tragedi membuat saya mengernyitkan dahi membaca ending cerita ini. Cukup mengejutkan dan sialnya...pas banget porsinya. Tidak berlebihan tapi juga tidak membuat saya merasa penasaran seperti apa kisah Julia selanjutnya. 

 Cinta bukan hadir pada saat mereka saling menyapa, ketika berkata "hai" atau "halo", tetapi justru pada saat mereka harus berpisah dan saling berucap "selamat tinggal".

Cerita lain yang cukup membuat saya puas membacanya adalah cerita terakhir yang berjudul Hujan. Deras Sekali. Cerita yang mudah ditebak, tapi saya perlu mengacungkan jempol (sepertinya) karena penulis bisa menuliskan cerita dari sebuah ide sederhana macam hujan deras ini. Geleng-geleng kepala tapi juga miris.

Nah, kalau kalian menyukai hujan, tak ada salahnya mencoba membaca buku ini. Alurnya yang kalem, suasana yang sendu dan tampilan hujan di tiap judulnya membuat saya merasa cukup melankolis saat membaca buku ini XD


Oh satu lagi dink, Ndoro Kakung di salah satu ceritanay menyebutkan seekor Naga yang ebrbulu merah. eng... Naga kan bersisik ya, masa iya berbulu. 
(ttd. pencinta Naga garis keras)

Be First to Post Comment !
Poskan Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Salam,

Salam,